Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Exchange of fire threatens Gaza ceasefire

Palestinian fighters fire rockets into southern Israel after Israeli aircraft hit targets in Hamas-ruled territory.

Last Modified: 04 Apr 2013 00:03
Listen to this page using ReadSpeaker
Email Article
Print Article
Share article
Send Feedback
The Israeli military said a total of five rockets had been fired from Gaza in the past 24 hours [Reuters]
Palestinian fighters have launched several rockets into southern Israel after Israeli aircraft hit targets in the Gaza Strip.
Wednesday's incidents were the heaviest exchange of fire between the sides since they agreed to an internationally brokered ceasefire last November.
There were no casualties reported, but the violence threatened to shatter the calm that has prevailed for more than four months.
Israel's new defence minister has warned his country will not sit back if Palestinian fighters continue their attacks.
"We will not allow shooting of any sort [even sporadic] toward our citizens and our forces," Moshe Yaalon said in a statement.
He blamed the Palestinian faction Hamas - in control of Gaza since 2007 - for the rockets but the group has not claimed responsibility for the attacks.
Israel launched an offensive against Hamas last November in response to an increase in rocket fire out of Gaza.
During eight days of fighting, Israel carried out hundreds of air strikes in Gaza, while Gaza fighters fired hundreds of rockets into Israel.
More than 160 Palestinians, including dozens of civilians, and six Israelis were killed in the fighting before Egypt brokered a truce.
In recent weeks, there have been a handful of rocket attacks, including one that took place as President Barack Obama was visiting Israel two weeks ago.

Empty fields struck
Overnight on Wednesday, Israel responded for the first time by striking a pair of empty fields in northern and eastern Gaza.
But just around the time Yaalon was speaking on Wednesday morning, two more rockets exploded in the Israeli border town of Sderot, according to police.
Air raid sirens sounded throughout the town, forcing people on their way to work and school to take cover. No injuries were reported.
The Israeli military said a total of five rockets had been fired in the past 24 hours, including two that exploded prematurely inside Gaza.
Under the ceasefire, Israel pledged to halt its policy of attacking Palestinian leaders and to ease a blockade it has imposed on Gaza since the Hamas takeover in 2007. Hamas pledged to halt rocket attacks on Israel.
A number of smaller groups also operate in Gaza, including groups that draw inspiration from al-Qaeda.
Robert Serry, the UN Middle East envoy, appealed for calm in a statement, saying he is "worried" tensions could threaten the informal truce.
"It is of paramount importance to refrain from violence in this tense atmosphere and for parties to work constructively in addressing the underlying issues," he said.
Ihab Ghussein, Hamas government spokesman, accused Israel of using the air strikes to "divert the attention" from unrest in Israeli prisons.
"They think that through escalation on Gaza front they can hide the truth," he said, and urged Egypt, the guarantor of the ceasefire, to intervene.
Palestinian prisoners have been rioting and hunger striking since a 64-year-old prisoner died of throat cancer on Tuesday.

Senin, 28 November 2011

KECEMASAN ISRAEL DIBALIK REVOLUSI ARAB


Kecemasan Israel di Balik Revolusi Arab
Analisa
28/11/2011 | 02 Muharram 1433 H | Hits: 959
Oleh: Tim dakwatuna.com


Oleh: Sholeh Nu’aimi
Kajian di lembaga riset Al-Zaytouna

dakwatuna.com - Para pejabat Israel mencemaskan efek dari revolusi yang terjadi di negara-negara Arab. Mereka menilai revolusi yang tengah terjadi saat ini akan didominasi oleh gerakan Islam sekaligus akan melebarkan hegemoninya di tanah Arab. PM. Israel, Benjamin Netanyahu merupakan sosok yang sangat khawatir dengan hal ini, ia mengingatkan dunia akan kondisi serupa dengan membandingkannya dengan revolusi Iran. Menurutnya, revolusi yang terjadi dilakukan oleh kelompok pergerakan yang menentang rezim Syah yang berkuasa pada saat itu, dan berakhir dengan berdirinya negara Islam di Iran. Bukan hal yang mustahil menurut pemimpin penjajah ini, revolusi di Mesir akan menjadi tonggak bangkitnya gerakan Islam dan lahirnya “Mesir Baru” sebagai produk dari revolusi.

Netanyahu tak hanya mengingatkan akan bahayanya apabila gerakan Islam berkuasa, tapi ia juga mengkampanyekan akan terancamnya demokrasi dengan hadirnya pesaing baru melalui revolusi Arab. Ia bahkan menelurkan ide, agar dibentuk penggalangan dana internasional yang fungsinya mensupport gerakan anti Islam di negara-negara Arab. Netanyahu mengistilahkannya dengan Liberalisasi, dan sikap serupa sama seperti gerakan Marshall yang dilakukan oleh Amerika setelah meletus Perang Dunia II untuk mendukung Eropa Barat. Dalam hal ini Netanyahu telah mengirim Eran Lerman, asisten penasihat Keamanan Nasional Israel ke Amerika untuk menyampaikan idenya tersebut kepada para pemimpin Kongres Amerika.

Di tengah upayanya membuat citra buruk terhadap revolusi ‘Arab Spring’ dan mengadu domba dunia dengan isu ini, para elit Israel membenarkan analisa dari Netanyahu dengan mengambil contoh dari apa yang pernah dilalui Iran dan gerakan Hamas, dan mengingatkan dunia bahwa cukup keberhasilan keduanya sebagai pelajaran. Mereka kemudian membahasakan bahwa apa yang terjadi di Mesir saat ini bukanlah sebuah revolusi melainkan tak lebih dari sebuah kudeta. Karena menurut analisa mereka, peristiwa ini akan berujung dengan naiknya gerakan Al Ikhwan Al Muslimun sebagai penguasa di sana. Mesir kemudian akan mendirikan sebuah negara Islam representasi Sunni. Israel dalam hal ini mengkampanyekan bahwa perubahan di Mesir tidak mengarah kepada demokrasi dan kebebasan, tapi mengarah kepada yang sebaliknya.

Yossi Beilin, anggota Knesset Israel, telah memberi peringatan kepada dunia internasional agar tidak memberi kesempatan kepada kubu Islam untuk memimpin. Ia kemudian menyalahkan sikap presiden Amerika, Barack Obama yang membiarkan semua ini terjadi. Menurutnya Obama tak ubahnya Jemmy Charter, mantan presiden Amerika yang melakukan kesalahan fatal dengan bersikap cuek terhadap penggulingan Monarki di Iran. Yang ujungnya tidak hanya berakhir dengan tamatnya rezim kerajaan di Taheran namun juga perubahan frontal yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan baru Iran. Ia kemudian menyebut bahwa revolusi yang telah terjadi di Mesir berpotensi memutuskan hubungan negeri itu dengan negara sekuler dan Barat. Apa yang terjadi di Mesir menurutnya sama seperti yang terjadi di Iran, ada sutradara di balik layar yang memiliki target merunyamkan perdamaian dan rekonsiliasi dengan Israel.

Saat ini, Elyakin Hatsena, salah satu pemimpin pemukiman di Tepi Barat mengatakan bahwa dengan kesuksesan gerakan Islam dalam mencapai tampuk pemerintahan dengan jalur revolusi Arab, menyimpan artinya adanya dukungan mereka terhadap pemerintahan gerakan pejuang Hamas, yang pada waktu bersamaan turut menekan kekuatan Israel untuk melawan Hamas. Indikasi itu terlihat dengan adanya potensi yang dimiliki oleh Mesir dalam menopang Hamas dengan senjata dan serta memberikan perlindungan secara tidak langsung, dan ini semua dapat melemahkan kemampuan Israel dalam menghadapi kubu gerakan perlawanan di Palestina. Sekaligus tidak menafikan akan kemungkinan terjadinya gesekan -di saat pemerintah Mesir dipimpin oleh kubu Islamis- antara Mesir dengan Israel di perbatasan.

Adapun agenda mereka dalam mengkampanyekan ancaman dari revolusi Arab yang akan diambil alih oleh gerakan Islam, maka kita akan menemukan bahwa para pejabat di kalangan elit Israel juga mengkampanyekan akan ancaman gerakan Hamas di Jalur Gaza, mereka kerap menggelar kampanye untuk menjatuhkan gerakan yang bertentangan dengan kepentingan mereka. Terlebih dari itu Israel mencoba untuk menggeser keabsahan revolusi yang tengah berlangsung di ranah Arab dengan menuduh bahwa semua itu diboncengi oleh kepentingan gerakan Islam untuk mengambil alih kekuasaan. (msy/knrp)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16804/kecemasan-israel-di-balik-revolusi-arab/#ixzz1f04tF8eq

Minggu, 27 November 2011

PARTAI ISLAM MODERAT MENANGI PEMILU MAROKO

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT - Partai Islam yang berhaluan moderat meraih kemenangan dalam pemilihan parlemen pertama Maroko, kata hasil sementara, Sabtu, partai agama pertama memperoleh kemenangan setelah pemberontakan yang dikenal dengan nama Arab Spring.

Kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (PJD) terjadi sebulan setelah kelompok Islam menang dalam pemilu pasca-revolusi di Tunisia dan beberapa hari sebelum Mesir menyelenggarakan pemilu.

Dengan 288 dari 395 kursi yang diperebutkan, partai itu meraih 80 kursi dalam pemilu Jumat, kata Menteri Dalam Negeri Taib Cherkaoui dalam jumpa wartawan.

Ini hampir dua kali lipat dari 45 kursi yang diraih Partai Independen yang dipimpin Perdana Menteri Abbas el Fassi yang menempati peringkat kedua dan memimpin pemerintah koalisi lima partai sejak tahun 2007.

Kementerian dalam negeri akan menyiarkan hasil-hasil akhir, Ahad. "Kami berterima kasih kepada rakyat Maroko yang memilih PJD dan kami puas," kata sekjen PJD Abdelilah Benkirane kepada wartawan. Mobil-mobil membunyikan klakson-klakson di ibu kota Rabat setelah hasil-hasil partai dikeluarkan.

Menurut satu konstitusi baru yang disetujui dalam referendum, Juli, Raja Mohammed VI kini harus mengangkat perdana menteri dari partai yang meraih paling banyak kursi di parlemen, bukannya orang yang ia inginkan.

Raja itu, keturunan terakhir dari satu monarki yang memerintaa selama 350 tahun, mengusulkan perubahan-perubahan konstitusi yang mengekang beberapa kekuasaannya yang hampir mutlak seperti rezim-rezim otoriter di Tunisia, Mesir dan Libya yang telah digulingkan akibat protes-protes pro-demokrasi di dalam negeri.

Partai Islam harus memerintah bersama dengan partai-partai lainya dan Benkirane mengaku partainya harus menyesuaikan programnya untuk memenuhi tuntutan mitra-mitra koalisi. PJD "terbuka pada siapapun" apabila menyangkut pada pembentukan aliansi, kataya.

PJD secara berangsur meraih banyak pendukung di Maroko, yang dianggap sebagai salah satu dari negara-negara paling stabil di kawasan itu. Setelah hanya meraih delapan kursi tahun 1997, popularitas partai itu naik, dengan meraih 42 kursi dalam pemilu tahun 2002.

Pada pemilu tahun 2007 partai itu menduduki peringkat kedua dengan 47 kursi. Partai itu memusatkan programnya terutama pada masalah-masalah sosial seperti menentang festival-festival musim panas dan penjualan alkohol, tetapi mengubahnya pada masalah seperti memerangi korupsi dan pengangguran yang tinggi.

Pada tahun 2010 Benkirane berusaha melarang satu konser penyanyi gay Elton John di Maroko karena khawatir mendorong homoseksual. Benkirane mengatakan negara-negara Barat, yang melakukan investasi di negara itu tidak usah khawatir pada pemerintah yang didukung PJD.

Raja mengusulkan penyusunan satu konstitusi baru pada 9 Maret , hanya 17 hari setelah ribuan orang turun ke jalan-jalan di seluruh Maroko menyeru dia melepaskan beberapa kekuasaannya dalam protes-protes terbesar anti-kemapanan di negara itu dalam puluhan tahun belakangan ini.

Gerakan protes 20 Februari di Maroko,yang pro-demokrasi bertangggung jawab atas protes-protes itu menyerukan para pemilih memboikot pemilu itu. Reformasi-reformasi konstitusioanl tidak cukup.

Kehadiran para pemilih 45,5 persen, naik dari 37 persen dalam pemilihn parlemn terbaru tahu 2007, tetapi lebih rendah dari pemilu tahun 2002 yaitu 51,6 persen.

Kamis, 24 November 2011

JIKA SERANG IRAN,israel Dikepung dari tiga sasaran


REPUBLIKA.CO.ID, Pejabat senior militer Iran menilai perisai rudal yang ditempatkan AS maupun rezim Zionis di kawasan untuk melindungi Tel Aviv tidak akan memadai untuk menghalau serangan rudal Iran ke arah Israel.

"Perisai rudal yang mereka tempatkan di Turki, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab tidak akan bisa menghalau semua rudal Iran," kata Brigadir Jenderal Yahya Rahim-Safavi, Rabu (23/11) seperti dikutip ISNA.

"Mereka mungkin dapat mematahkan beberapa rudal kami, tetapi jumlah rudal kami sangat besar sehingga mereka tidak akan dapat mampu menghadapinya," tegas penasehat militer senior Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Komandan militer Iran itu menambahkan bahwa semua orang Israel berada dalam jangkauan rudal Iran.

Mengacu pada ancaman terbaru Israel terhadap Iran, Rahim Safavi mengungkapkan bahwa Israel tahu jika mereka memulai perang dengan Iran, maka akan diserang dari tiga sasaran: Iran, Lebanon selatan dan Hamas.

Dalam beberapa pekan terakhir Israel telah memperbaharui retorika agresifnya terhadap Iran. Pada hari Senin, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengancam bahwa opsi militer terhadap Iran telah tiba waktunya.

Presiden Israel Shimon Peres (6/11) mengancam bahwa serangan terhadap Iran menjadi "sangat mungkin."

Para pejabat Iran akan respon menghancurkan setiap serangan militer terhadap negara itu, dan memperingatkan bahwa setiap tindakan semacam itu bisa mengakibatkan perang yang akan menyebar di luar Timur Tengah.

Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Gholam-Ali Rasyid Ahad (20/11) mengatakan Tehran akan menyerang semua situs militer dan nuklir Israel jika Tel Aviv melakukan tindakan bodoh menyerang fasilitas nuklir Ir

Selasa, 22 November 2011

AYO ISRAEL SERANG IRAN !


Ayo Israel Serang Iran! Kami akan Buat Kalian Jadi Debu Sejarah
Selasa, 22 November 2011 08:14 WIB

REPUBLIKA, TEHERAN--Iran menyambut provokasi yang dilontarkan Iarael dan Amerika Serikat soal fasilitas nuklir mereka dan ancaman perang. Komandan Senior Pasukan Garda Revolusi Iran menantang Israel kalau berani menyerang negara Persia itu.

"Kami juga berani menyerang Israel. Serangan kami akan membuat Israel hancur jadi debu," kata Amir Ali Hadjizadeh seperti dikutip Fars.

Ia mengatakan Iran berharap Israel benar-benar menyersng mereka sehingga negara zionis itu merasakan apa yang akan terjadi. Kepala Divisi Aerospasial Garda Revolusi ini menegaskan, "Sudah lama kami inin memusnahkan musuh-musuh Islam. Biar mereka hancur jadi debu sejarah."

Salah satu senjata utama yang akan digunakan Iran tampaknya adalah kekuatan misil mereka. Menurut Amir, daya jelajah misil Iran cukup jauh dan sanggup mengenai Israel.

Pernyataan keras ini muncl pasca Menhan Israel Ehud Barak sesumbar dengan mengatakan saatnya telah tiba bagi Iran. Menhan Iran Brigjen Ahmed Vahidin menyatakan perkataan Barak itu sangat provokatif.

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Fars

Selasa, 25 Oktober 2011

RINGKASAN KONFERENSI INTERNASIONAL tentang harmoni peradaban islam dan barat menuju era baru









dakwatuna.com – Berikut ini merupakan ringkasan dan cuplikan dari presentasi yang disampaikan sepanjang acara Konferensi Internasional tentang “Harmonisasi Peradaban Islam dan Barat menuju Era Baru”, 20 Oktober 2011, dari pukul 09.00 s.d 16.30

Konferensi ini diselenggarakan di Hotel Holiday Inn, Leiden, Belanda, pada pukul 09.00 waktu setempat. Pertemuan dimulai dengan pidato pembuka yang disampaikan oleh Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan (Selanjutnya disebut PIP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Belanda, Deden S. Permana. Mewakili PIP PKS di Belanda, Inggris, dan Jerman. Deden di dalam pidato pembukanya menekankan bahwa Konferensi ini membawa pesan perdamaian dan dialog, dan juga niat baik dari PKS untuk berkontribusi dalam proses transformasi peradaban dunia menuju keadaan yang lebih baik dan era baru yang penuh dengan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan untuk semua. Kemudian sambutan pembuka juga disampaikan oleh Mustafa Kamal, ketua fraksi PKS di Dewan Perwakilan Rakyat yang berbicara mengatasnamakan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.

Di dalam sambutannya, Mustafa Kamal menyebutkan bahwa tidak ada satupun negara yang bebas dari masalah, baik itu dalam hal ekonomi, sosial-politik, budaya ataupun masalah kerekatan sosial. Termasuk juga Indonesia. Oleh karena itu, setiap negara, bahkan setiap peradaban memerlukan pembelajaran dari praktek-praktek terbaik yang dijalankan oleh negara atau peradaban lainnya. Kebutuhan untuk saling memahami dan bekerja sama pada tingkat internasional menjadi tidak terelakkan. Konferensi ini juga merupakan bagian dari rangkaian aktivitas serupa yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat PKS melalui Badan Hubungan Luar Negeri (BHLN) dan secara teknis dieksekusi oleh PIP di sejumlah negara. Pada Januari 2011 acara serupa diselenggarakan di London, dan pada rencana yang akan datang diharapkan bisa juga diselenggarakan di negeri lainnya.

Diskusi panel pertama kemudian diselenggarakan setelah sesi pembukaan, perhatian dipusatkan pada tema “Barat dan Islam: Refleksi Nilai-nilai Unggul dari masing-masing Peradaban”. Terdapat empat pembicara pada sesi ini, mereka yaitu: Dr. Hidayat Nur Wahid (Anggota DPR, Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat), Anis Matta (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat) dan George Galloway (Koalisi anti-perang di Inggris, Mantan Anggota Parlemen Inggris) dan Syeikh Ahmed Amir Ali (Presiden dari Akademi Studi Islam Eropa, di Inggris).

Dua issu dibahas oleh Anis Matta:

Krisis, ekonomi dan politik yang melanda dunia Barat dan dunia Islam.
Solusi yang memungkinkan untuk mengatasi masalah yang ada

Anis Matta menyebutkan bahwa peristiwa 11 September telah memperburuk proses komunikasi Barat dengan Islam, dan oleh karenanya perlu diingatkan kepada semua muslim akan pentingnya interaksi melalui dialog dan komunikasi dua arah yang baik.

“Arab Spring” (Musim Semi bagi demokrasi di dunia Arab) telah terjadi, sehingga perlu dicari model baru dari peradaban, negara, pemerintahan dll. Namun, dunia Islam tampak kehilangan narasi peradabannya setelah kejatuhan para diktator di Tunisia, di Mesir dll. Oleh karenanya, penting bagi mereka untuk segera menyusun narasi baru peradabannya dengan pemimpinnya yang baru.

Anis menyatakan bahwa dunia Islam harus memulai narasinya bukan dari titik di mana Barat memulainnya melainkan seharusnya dari titik ketika barat mengakhirinya. Sehingga dia seharusnya merupakan sebuah kelanjutan dan bukanlah sebuah awal yang sama sekali baru.

Ketika ada seorang bertanya tentang bagaimana caranya untuk merealisasikan gagasannya, Anis Matta menjawab dengan menyentuh tiga hal:

Masalah Komunikasi, misalnya: Sentimen segelintir elit di Eropa tidak menggambarkan pandangan masyarakatnya demikian juga sebaliknya di dunia Islam.
Bagaimana kita bisa menaruh isu ekonomi di dalam perspektif kemanusiaan, hal ini merupakan issu bersama.
Bagaimana kita bisa meninjau ulang kurikulum pendidikan kita, sehingga mampu untuk menjauhkan rasa takut, benci sedini mungkin.

Sementara itu, George Galloway mengapresiasi PKS untuk kemampuannya berfikir di luar kebiasaan, dan kepeduliannya dalam permasalahan-permasalahan dunia.

Dia setuju dengan pembicara sebelumnya (Anis Matta) bahwa tidak semua pandangan elite mewakili masyarakatnya. Bush (George W Bush) dan Blair (Tony Blair) ketika mengirimkan pasukan untuk menyerang Iraq. Masyarakat Inggris, dan sekitar dua juta orang di tahun 2003, keluar untuk menentang kebijakan perang.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, dia tidak pernah bertemu seorang muslim pun yang berperilaku anti bara seperti anti pohon natal. Galloway melihat bahwa yang Muslim inginkan adalah 1) Tidak mendikte Barat 2) Tidak didikte Barat. Galloway pun mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi jika Harmonisasi ingin dicapai.

Kemerdekaan absolut untuk Palestina
Menghentikan perang berkepanjangan di negeri-negeri Muslim
Menghentikan penciptaan dan dukungan pemimpin dan pemerintahan boneka di negeri­ negeri Muslim. Jika hal-hal tersebut masih terjadi maka tidak akan ada hubungan yang normal antar peradaban.

Akhirnya demokrasi harus berlaku untuk seluruh manusia dan seluruh belahan bumi, tidak boleh ada standard ganda ataupun hipokrasi yang digunakan di dalam kebijakan dari pemerintahan manapun.

Dalam paparannya, Dr. Nur Wahid menyimpulkan bahwa seharusnya tidak ada sekat bagi Muslim untuk belajar dari non-Muslim dan begitu pun sebaliknya. Baik Islam maupun Barat harus memainkan perannya dalam membawa kesejahteraan kepada seluruh dunia secara aktif, dan bertanggung jawab. Keduanya perlu untuk menemukan pendekatan yang efektif dan metode yang tepat untuk mencapai tujuan bersama.

Pada kesempatannya berbicara, Syeikh Ali mempertimbangkan bahwa merindukan nilai­-nilai fundamental dari Islam dan juga sebaliknya. Dia mengakui bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam proses komunikasi kedua peradaban, dan kesalahpahaman tersebut disebabkan oleh kesalahan orang per orang pada kedua belah pihak.

Sesi panel yang kedua, konferensi dimulai setelah istirahat makan siang, di bawah sub-tema “Mempercepat hadirnya Era Baru: Upaya menekan Korban dari Kontraksi dan Kontradiksi antar Nilai Budaya”. Empat pembicara berbagi gagasannya dalam sesi ini, mereka adalah Laureen Booth (Seorang Jurnalis dan Pembawa Acara dari Inggris), Dr. Ibrahim El-Zayat (Ketua dari Sejumlah Organisasi Muslim dan Masjid di Jerman), Arif Havas Oegroseno (Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luxemburg dan Uni Eropa) dan Mustafa Kamal (Ketua fraksi PKS di DPR RI).

Laureen Booth, yang memeluk Islam pada tanggal 19 Oktober 2010 memulai presentasinya dengan berbagi pengalaman dalam pencarian panjang akan kebenaran, dimulai dari interaksinya dengan Muslim dan berubah-ubahnya persepsi yang dia miliki tentang Islam. Booth menceritakan kisahnya yang cukup inspiratif hidup sebagai seorang perempuan Muslim di Barat, bagaimana dia tetap mempertahankan keimanannya dan bagaimana juga mayoritas Muslim berintegrasi dengan baik dengan sistem sosial di Barat. Dia kemudian menyebutkan urgensi bagi Muslim untuk menunjukkan kasih sayang dan memelihara kepercayaan diri sebagai Muslim dengan cara berdialog dengan masyarakat dimana mereka tinggal.

Pada kesempatan kedua Dr. El-Zayat mengeksplorasi apa yang terjadi baru-baru ini di dunia Arab yang memiliki kekuatan untuk membantah sikap prejudice terhadap Arab dan Muslim bahwa mereka adalah diktator, penuh kekerasan, menekan perempuan, dan terasosiasikan dengan aktivitas ekstrim. El-Zayat menyentuh kegagalan dari sistem ekonomi kapitalis yang membuat semua orang mencari sistem ekonomi alternatif. El-zayat juga memandang bahwa nilai-nilai dari institusi keluarga yang merupakan nilai mendasar dari ajaran Islam merupakan kunci pembentukan masyarakat yang sehat, yang mampu diperkenalkan secara menarik, aktual dan berkelanjutan hingga tercapai era baru.

Dubes Oegroseno menyajikan narasinya yang berjudul: “The New Era – Now – Beyond”. Dimulai dengan bertanya kepada audiens pertanyaan sebagai berikut ini: Apakah Eropa berada pada “jalur yang benar”, dan apakah Eropa sedang menurun? Kemudian Oegroseno menyajikan sebuah prediksi bahwa Asia pada tahun 2050 memiliki kemungkinan untuk mengendalikan 51% dari aktivitas ekonomi dunia, sementara itu Amerika hanya 25% dan Eropa harus puas dengan 10% saja. Mesin pertumbuhan di Asia, termasuk Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand. Kunci menuju dialog dalam era baru adalah: Evaluasi diri, menghindari Stereotype, Integrasi Sosial dan Fasilitasi Ekonomi.

Mustafa Kamal, menyarankan agar kedua peradaban mengubah caranya dalam menulis sejarah. Lanjutnya, narasi sejarah kita pada umumnya ditulis dengan pendekatan konflik, dimana konflik diambil sebagai pusat dari penulisan sejarah. Sementara itu pendekatan baru dalam penulisan ulang sejarah yang berbasiskan harmoni harus mulai diperkenalkan dan diajarkan kepada generasi muda, sehingga ide harmonisasi antar peradaban ini tidak hanya dinikmati di ruangan konferensi ini akan tetapi juga kita bisa meyakinkan bahwa semangatnya tertular kepada generasi kita berikutnya.

Keseluruhan sesi panel ini dimoderasi oleh Novrizal Bahar, dan dihidupkan dalam suasana diskusi.

Sebagai penutup rangkaian acara pada konferensi ini, pidato penutup disampaikan oleh Dr. Hidayat Nur Wahid. Hidayat menekankan bahwa diskusi penting seperti ini harus dilanjutkan, gagasan-gagasan dan pemikiran penting yang disajikan sepanjang konferensi harus disebarluaskan atas keyakinan bahwa terlalu banyak yang bisa dibagi bersama-sama oleh kedua peradaban, dan atas keyakinan akan pesan dari ajaran Islam “Wata’awanu ‘alal birri wa taqwa, wa laa ta’awanu ‘alal itsmi wal udwaan”, yakni, bahwa setiap kita butuh berkoordinasi dan bekerja sama dalam hal-hal yang positif. Ini adalah tradisi, ajaran, moralitas dan nilai dasar dari ajaran Islam.

Konferensi ditutup pada pukul 16.30 waktu setempat.

Leiden, 20 Oktober 2011

Kepala Bagian Hubungan Luar Negeri DPP PKS

Budiyanto

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15877/ringkasan-konferensi-internasional-tentang-harmonisasi-peradaban-islam-dan-barat-menuju-era-baru/#ixzz1eFkJGccy

Rabu, 19 Oktober 2011

ALHAMDULILLAH,SUKU SUKU DI AFRIKA beralih ke ISLAM

Alhamdulillah...Suku-suku di Afrika Beralih Pada Islam
Rabu, 19 Oktober 2011 14:53 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ADDIS ABEBA - Kepala Dewan Muslim Kenya menyatakan lebih banyak warga Afrika yang memeluk Islam setiap hari. “Masa depan cerah bagi Islam di Afrika. Sangat mungkin, Islam akan menjadi agama paling banyak dipeluk di benua ini,” papar Abdul Ghafur Bu Saedi, seperti dikutip Abna.ir, Rabu (1810).

Abdul mengatakan banyak suku-suku di Afrika menaruh minat dalam membaca dan menghafal Alquran. Itu terlihat dari jumlah lembaga Islam di Afrika yang terus meningkat. “Anda lihat saja hari Jum'at, banyak orang yang datang ke Masjid di seluruh Kenya. Mereka lalu bersyahadat, belajar shalat dan membaca Alquran,” ujarnya.

Sebagai informasi, Islam dibawa ke Kenya oleh dua orang kepala suku Arab asal Oman bernama Sa'id dan Sulaiman. Dikisahkan keduanya melarikan diri dari tanah kelahiran mereka, setelah menolak untuk menyerahkan diri kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan, penguasa kekhalifahan Islam saat itu.

Pada abad ke-12 hingga abad ke-15, di wilayah timur laut Kenya mulai banyak berdiri kota-kota Islam. Kota-kota ini mengalami perkembangan pesat di bidang sosial keagamaan maupun ekonomi.

Pada 1331, seorang penjelajah Muslim terkenal asal Maroko, Ibnu Batutah, mengunjungi Mombasa (kota kedua terbesar di Kenya, red) yang dijelaskan dalam sejumlah literatur sejarah sebagai sebuah kota dengan banyak jalan dan bangunan bertingkat pada masa itu.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Agung Sasongko

Sabtu, 17 September 2011

ERDOGAN MENJADI KHALIPAH..?



Khalifah Ottoman terakhir, Sultan Hamid II, yang digulingkan oleh sekelompok perwira militer yang dipimpin seorang opsir bernama Kemal Attaturk, dan mengubah Turki menjadi negara Republik sekuler, tahun 1924.
Imperium Ottoman berkuasa selama lebih dari 7 abad. Dengan pengaruhnya yang luas sampai ke jantung Eropa, Balkan, Asia Tengah, dan Asia, serta Timur Tengah. Kemudian dijuluki "Sick man in the Europe".
Sesudah berkuasa di Turki, Kemal Attaturk mengubah negeri itu seluruhnya. Hukum Islam dihapus, Agama Islam direduksi sampai ke titik terendah, nilai-nilai Islam dilarang dalam kehidupan masyarakat, para ulama diasingkan keluar negeri, bahasa Arab dilarang, adzan menggunakan bahasa Turki, simbol-simbol Islam disingkirkan.
Sejak Kemal Attaturk berkuasa terjadi proses sekulerisasi yang hebat dan luar biasa terhadap seluruh kehidupan rakyat Turki. Attaturk yang masih berdarah Yahudi itu, mengganti sistem dan nilai Islam dengan sistem dan nilai sekuler Eropa. Karena itu, sejak runtuhnya Khalifah Ottoman itu, berlangsung proses sekulerisasi yang sangat massif terhadap kehidupan rakyat Turki. Semua yang dilakukan Attaturk itu, bertujuan menghapus nilai-nilai Islam dan sistem Islam dalam kehidupan masyarakat dan rakyat Turki, sampai ke akar-akarnya.
Sekulerisme sudah menjadi sebuah "agama" baru di Turki sejak Kemal Attaturk berkuasa. Tidak boleh dan tidak ada apapun, selain nilai sekuler dalam kehidupan Turki. Sekulerisme menjadi "credo" (aqidah) di dalam kehidupan rakyat Turki, karena secara tegas masuk dalam konstitusi Turki. Hukum, tata nilai, dan segala bentuk aturan yang ada, tidak boleh berlawanan dengan prinsip sekulerisme.
Sekulerisme di Turki memiliki penjaga dan penjamin, yang akan melindungi nilai-nilai itu, khususnya dari setiap ancaman yang ingin menggantinya, yaitu militer. Militer Turki menjadi "garda" paling depan, dan akan bertindak terhadap apa saja, dan siapa saja yang akan mengganti prinsip sekulerisme dengan nilai lainnya. Dari manapun. Karena militer Turki dapat bertindak dengan dasar konstitusi yang ada. Inilah yang memperpanjang umur sekulerisme di Turki.
Maka, sejak lahirnya Republik Turki yang sekuler, yang ada hanyalah entitas politik sekuler, tidak ada yang lain. Semua partai yang berkuasa hanyalah partai-partai sekuler tidak ada yang lain. Partai-partai sekuler dengan dukungan dan penjagaan dari militer, yang akan selalu menjadi pembela dan penjaganya. Semua itu, berlangsung hingga menjelang akhir abad ke 20.
Satu-satunya gerakan yang menyalamatkan rakyat Turki dari kehancurannya, dan tetap melestarikan nilai-nilai dan prinsip Islam, tak lain, gerakan sufi, yang dipimpin seorang ulama sufi, Badi'uzzaman atau Said Nursi. Dengan sembunyi-sembunyi Said Nursi mengajarkan Islam kepada rakyat Turki. Badi'uzzaman alias Said Nursi, menjauhkan diri dari politik, dan tetap mangajarkan Islam dengan caranya.
Kemudian belakangan lahir Gerakan Milli Gurus, yang mirip dengan Gerakan Ikhwan di Mesir, dan berkembang pesat di Turki dan daratan Eropa. Mehmed Sabri yang merupakan keponakan Erbakan menjadi pemimpin Milli Gurus, dan kemudian Sabiha anak Mehmed Sabri menikah dengan seorang tokoh muda Ikhwan, Ibrahim Zayad, yang sekarang menjadi tokoh penting dalam Gerakan Islam di Eropa.
Milli Gurus mempunyai peranan yang sangat penting menghidupkan kembali Islam di Turki, bahkan di daratan Eropa. Kelompok Milli Gurus yang tidak lepas dari peranan Erbakan, kemudian melakukan re-Islamisasi kembali di Turki dan daratan Eropa. Sehingga, tidak menjadi sesuatu yang aneh, bila Turki dan Timur Tengah, sekarang kembali memiliki kedekatan, karena telah memiliki akar dan dasar, yang dibangun oleh entitas Gerakan Islam, di mana antara Ikhwan dan Milli Gurus memiliki kesamaan tujuan dan kemiripan dalam gerakan.
Erbakan kembali ke Turki tahun 1965, sesudah menyelesaikan Phd, di Aachen dibidang Tehnik, kemudian mengajar di Istambul University, di bidang teknik. Kemudian Erbakan menjadi deputi tahun 1969.
Erbakan yang jenius dan ahli membuat tank itu, justru menjadi pemikir dan aktivis, dan selanjutnya mendirikan partai politik. Mungkin Erbakanlah yang pertama kali membidani lahirnya gerakan politik Islam di Turki. Karena, sejak dibangku mahasiswa, ketika kuliah tehnik di Jerman, Erbakan sudah bergelut dengan para aktivitas Islam, dan mempelajari berbagai ideologi, dan pandangan politik, termasuk pemikirannya, yang banyak menyerap dari pemikiran dan ideologi Ikhwan, yang kemudian ditransformasikan melalui Gerakan Milli Gorus.
Pertama kali Erbakan mendirikan partai politik di tahun l978, ketika sudah merasa memiliki kemampuan, dan dukungan yang kuat. Tahun l980, mendirikan Partai Salvation (Partai Penyelamat), sesudah ikut pemilu, dan mendapat suara yang signifikan di parlemen, dibubarkan oleh militer. Sampai Jendral Kenan Evren melakukan kudeta, membubarkan Partai Salvation , dan memasukkan penjara Erbakan, di tahun 1980-1987.
Berikutnya, Erbakan mendirikan Partai Refah, di tahun 1990, dan kemudian mengikuti pemilu tahun 1994, dan memperoleh suara yang mayoritas tipis di parlemen, serta melakukan koalisi dengan Partai Republik, yang dipimpin Tansu Ciller, dan membentuk pemerintahan.
Waktu Erbakan menang pemilu tahun 1994 itu, pertama kali, ia melakukan perayaan besar-besaran di Istambul, memperingati jatuhnya Konstatinopel, dan dihadiri seluruh tokoh Gerakan Islam dari seluruh dunia. Acara itu yang berlangsung di sebuah stadion di Istambul, memvisiualkan kembali, bagaiaman Sultan Mohammad al-Fatih merebut Konstatinopel, yang menjadi pusat imperium Romawi.
Kalau membaca konsep Erbakan dalam membangun Turki menjadi sebuah imperium baru, sangat jelas, dan rinci. Erbakan ingin membuat mata uang sendiri bagi seluruh negara-negara Islam, membuat sistem ekonomi dan perdagangan, membuat sistem kerjasama bidang pertahanan, keamanan dan militer, membuat sistem kerjasama dibidang budaya dan sosial. Konsep itu ditulis dengan komprehensif dan lengkap. Mungkin Erbakan ingin mewujudkan sebuah kekuatan Islam dengan satu sistem, yang banyak ditunggu itu.
Bahkan, Erbakan yang baru berkuasa itu, mempunyai langkah yang sangat luar biasa, di mana ia menginginkan agar Turki keluar dari keanggaotaan Nato, thaun 1995. Sehingga, menciptakan kekawatiran dikalangan anggota Nato dan negara-negara sekutu di Eropa.
Tetapi, semuanya impian itu kandas, karena militer Turki membubarkan pemerintahannya, karena dituduh menyimpang dari prinsip-prinsip sekuler, tahun 1997. Bahkan Partai Refah dilarang, dan Erbakan tidak boleh melakukan aktivitas politik selama 5 tahun. Berakhirkah cita-cita politik Erbakan?
Salah seorang murid Erbakan, ketika berkuasa, yaitu Recep Tayyib Erdogan, kala itu diangkat menjadi walikota Istambul.
Erdogan tahun 2000 mendirikan partai politik baru, yang diberi nama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Kemudian ikut pemilu berturut-turut, tahun 2002, menang dengan dukungan suara 37 persen, tahun 2007 naik suaranya menjadi 46,5 persen, dan tahun 2011 menjadi 50,3 persen.
AKP menargetkan mayoritas mutlak, dan ingin mengganti konstitusi Turki, dan mengubah sistem sekuler, tetapi gagal.
Keberhasilan AKP tidak lain, karena langkah-langkah strategis yang dilakukan Erdogan, memperbaiki Turki secara ekonomi dan politik. Langkah yang dilakukannya sangat jelas. Berhasil mengatasi krisis ekonomi, dan sekarang di tengah-tengah krisis global, ekonomi Turki tetap tumbuh, dan inflasi hanya satu digit. Seluruh sektor ekonomi dan perdagangan mengalami kemajuan yang signifiqan. Turki menjadi kekuatan ekonomi keempat di Eropa.
Tetapi, catatan yang paling penting dari semua yang dilakukan Erdogan dan AKP, adalah memasukan militer Turki ke dalam kotak. Militer Turki tidak lagi dapat melakukan intervensi dibidang politik. Inilah pencapaian yang paling penting dalam sejarah politik Turki yang dilakukan oleh Erdogan.
Sekarang militer berada di bawah supremasi sipil. Tidak hanya itu, Erdogan menyeret puluhan jenderal yang akan melakukan kudeta, dan memenjarakannya. Perdana Menteri Turki Erdogan dan Presiden Abdullah Gul, memimpin militer Turki, dan menjadi Ketua Dewan Militer Tertinggi Turki. Berakhirlah supremasi militer Turki yang sudah berlangsung sejak zamannya Kemal Attaturk.
Erdogan dan AKP hanya memanfaatkan demokrasi, dan melakukan perubahan yang lebih luas. Bukan hanya perubahan dalam skala nasional Turki, tetapi yang diinginkan Erdogan perubahan kawasan, dan bahkan perubahan secara global. Karena itu, Turki terus memainkan perananannya secara regional dan global. Langkah-langkah yang dilakukan Erdogan difinitif dan tegas. Pembelaan terhadap dunia Islam dan negeri-negeri Muslim juga sangat tegas.
Tentu, Erdogan belum mampu atau tidak mampu membuat seruan tegaknya Khilafah, Daulah, atau Sistem Syari'ah. Tetapi, perubahan secara gradual terus berjalan, dan nampak sedikit demi sedikit. Termasuk pandangan-pandangannya yang selama ini menjadi sangat tabu, yaitu penggunaan kerudung alias jilbab di Turki. Isterinya Emina, terlibat aktif memperjuangkan agar perempuan Turki bebas menggunakan kerudung.
Kehidupan Islam di Turki terus nampak, dan berkembang dengan pesat. Tidak ada lagi ristriksi pembatasan terhadap rakyatnya. Termasuk bagi mereka yang ingin melaksanakan prinsip-prinsip Islam. Masjid Aya Shopia yang sudah lebih dari 600 tahun ditutup, sekarang dibuka kembali, dan digunakan shalat tarawih selama bulan Ramadhan.
Pernyataan Erdogan yang mengundang kritik, seruannya kepada Mesir dan Tunisia menjadi negara sekuler. Maksudnya, menurut Erdogan, "Negara sekuler tidak mesti rakyatnya harus menganut sistem sekulerisme. Saya misalnya, bukan penganut paham sekulerisme. Tetapi, saya adalah perdana negara sekuler", kata Erdogan.
Situasi mungkin akan sangat berbeda, jika Erdogan saat berkunjung ke Mesir dan Tunisia, menyerukan kepada Mesir dan Tunisia bersama dengan Turki, menegakkan kembali sistem Khilafah, Daulah dan Syari'ah Islam. Mungkin baru sebatas itu, yang dapat dilakukan oleh Erdogan dan Turki, yang mungkin dapat kita maafkan.
Kita menghormati kepada mereka yang penuh pengorbanan, khususnya para syuhada yang berjihad ingin menegakkan sistem Khilafah, Daulah dan Syari'ah, serta mereka yang terus istiqomah dengan jalannya masing-masing ingin mewujdukan cita-citanya itu. Semoga semuanya menjadi amal shalih.
Tetapi, langkah-langkah yang dilakukan Turki dan Erdogan, di tengah-tengah situasi yang sangat penuh dengan ancaman orang-orang kafir, kegagalan, perpecahan, dan kekecawaan, masih ada sosok pribadi, sebagai pemimpin yang dengan sungguh-sungguh melakukan pembelaan dengan cara yang dilakukannya itu.
Mungkin banyak diantara kita yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan Erdogan. Wallahu'alam.

http://www.eramuslim.com/editorial/erdogan-menjadi-khalifah.htm