Tampilkan postingan dengan label KOLOM QIYADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM QIYADAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

DPRD APRESIASI JABAR RAIH WTP

New Picture (29)
Bandung.Swara Jabbar.
Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Irfan Suryanegara menyampaikan apresiasi atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2012 yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).”Prestasi tersebut sebagai hadiah bagi masyarakat Jawa Barat,” kata Irfan Suryangara di Bandung, Senin (27/5).Dikatakannya, prestasi ini merupakan buah dari kerja keras semua pihak, baik Gubernur dengan jajarannya, juga para anggota DPRD yang sudah melaksanakan tugas dengan baik.”Apalagi dalam kurun waktu masa jabatan DPRD 2009 hingga 2014, dan masa jabatan Gubernur 2008 hingga 2013, sudah dua kali WTP,” ujar Irfan.Pihaknya berharap, Pemprov Jabar di tahun berikut bisa mempertahankan prestasi tersebut karena mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya.Senada dengan Ketua DPRD Jabar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan raihan WTP tersebut berkat kerja keras semua pihak, baik para pimpinan OPD dan jajarannya, juga para anggota DPRD sebagai mitra pemerintah.Untuk itu, kata dia, sesuai saran BPK RI maka pihaknya akan segera menyusun rencana aksi yang akan dilaksanakan menyeluruh ke semua OPD terkait sejumlah temuan BPK .Pihaknya akan memantau langsung perkembangan perbaikan dari semua temuan dan rekomendasi dari BPK. Lebih cepat lebih baik. “Karena waktu yang dipatok oleh BPK adalah 60 hari sejak hari ini untuk segera menyampaikan perkembangan tindak lanjut atas semua temuan dan rekomendasi,” ujar Irfan. (Diah)

Rabu, 23 November 2011

SIAPAKAH INSAN RABBANI ITU ?



Siapakah Insan Rabbânî itu?
Tafsir Ayat
22/11/2011 | 25 Zulhijjah 1432 H | Hits: 722
Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA


dakwatuna.com - Sering kali kita mendengar kata rabbânî, baik di media massa atau di majelis-majelis ta’lim. Namun, tidak menutup kemungkinan ada di antara mereka yang tidak memahami makna kata tersebut.

Olehnya itu, Al-Qur’an sejak dini menggarisbawahi beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menyandang gelar ini, gelar yang derajatnya jauh lebih tinggi dari gelar kesarjanaan yang pernah dianugerahkan kepada seseorang.

Allah SWT berfirman:

وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ ﴿٧٩﴾

“Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbânî dengan apa yang engkau senantiasa ajarkan dari Al-Kitab, dan dengan apa yang kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79)

Hemat penulis, sebelum terlalu jauh menelaah pemaknaan Al-Qur’an terhadap kata tersebut, seyogianya menempatkan ayat ini terlebih dahulu dalam kaca mata historis. Tentunya, mengaca ke sebab turunnya ayat ini (Asbabun Nuzul) akan melahirkan corak penafsiran yang terpadu dan sempurna antara konteks kesejarahan dan sistematika ayat ini sendiri.

Syekh para penafsir, Imam Ibn Jarîr at-Thabarî [[1]] berkata:

“Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun terhadap Ahli Kitab yang berkata kepada Nabi Saw: “Apakah Engkau menyeru kami menyembahmu?” Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ikrimah atau Said bin Jubair dari Ibn Abbâs, beliau berkata: “tatkala para Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani kaum Nejran berkumpul mendengarkan ajakan Rasul Saw terhadap mereka untuk memeluk Islam, Abu Râfi’ al-Quradziyyi berkata: ”Apakah Engkau menginginkan kami menyembahmu, seperti orang-orang Nasrani menyembah Nabi Isa as.?” Selanjutnya, ar-Ribbîs, salah seorang penduduk Nejran, ikut mempertegas pertanyaan tersebut dan berkata: “apakah benar itu yang Engkau perintahkan wahai Muhammad?” Rasul Saw menjawab: “kami berlindung dari Allah SWT untuk menyembah selain dari Dia, atau kami memerintahkan kemusyrikan! Bukan itu sebab Aku di utus, dan bukan itu pula yang diperintahkan kepadaku.” Maka Allah SWT pun menurunkan ayat tersebut.”[[2]]

Hemat penulis, jika periwayatan ini sah, maka Rasul Saw adalah sebaik-baiknya murabbi. Dia teladan terhadap para murabbi dalam mendidik umat. Olehnya itu, hadits ini seperti menyiratkan pesan sebagaimana berikut:

“Wahai para murabbi, jika engkau sekalian ingin menjadi pendidik umat, maka mengacalah kepada tarbiyah Nabi Saw! Ikuti metode tarbiyah dan jalan dakwahnya yang terbukti telah melahirkan generasi umat yang mumpuni di pelbagai aspek kehidupan!”

Syekh Sya’râwî berkata:

“perkataan mereka di atas: (apakah Engkau ingin kami menyembahmu dan menjadikanmu tuhan?) Artinya: mereka tidak mengetahui perbedaan tajam antara Rasul Saw dalam menjalankan dakwah Allah SWT dan pembesar-pembesar mereka yang menyalahi hukum Islam dan menggantikannya dengan hukum lain. Rasul Saw tidak pernah meminta dari mereka untuk mentaati dirinya semata, akan tetapi ia meminta kepada mereka untuk mentaati ajaran dan metode kehidupan yang diembannya. Olehnya itu, ia sangat mengingkari wacana distorsif tersebut.”[[3]]

Berangkat dari penjelasan di atas, sang murabbi hendaknya tidak menjadikan diri pribadi mereka sebagai fokus perhatian umat. Akan tetapi, ia lebih menitikberatkan perhatian umat terhadap pesan yang disampaikan. Makna ini tersirat dari kata rabbânî itu sendiri yang berarti bahwa semua bentuk penyampaian dakwah datang dari Allah SWT dan tidak terambil dari yang lain.

Di lain sisi, ia juga memberi pesan bahwa murabbi itu hendaknya mampu menjadi cerminan terhadap akhlaq mulia, bias dari manifestasi hakikat nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna), murabbi yang senantiasa mengedepankan kemaslahatan dan keselamatan umat dari segala bentuk ego.

Bukanlah dari rabbânî murabbi yang menjadikan dakwah sebagai media penggalangan massa demi kepentingan kelompok tertentu atau partai. Akan tetapi, murabbi yang rabbânî adalah pejuang dakwah yang mengenyampingkan bentuk kepentingan seperti ini dan tidak mempeta-petakan medan dakwah. Bukan pula dari mereka yang mengeluhkan sepinya jamaah yang datang mendengarkan penyampaiannya. Akan tetapi, sebenar-benarnya murabbi adalah yang perhatian dan cita-citanya jauh lebih tinggi dari mengeluhkan hal kecil seperti ini. Bukankah tugas utama mereka adalah sekedar menyampaikan dan tidak memaksakan kehendak kepada siapa pun? Jangan pernah mengharap massa, dan jangan pernah bersedih dari sepinya massa! Karena datang dan berpalingnya massa dari Anda, itu merupakan keputusan Allah SWT saja. Boleh jadi, satu kalimat yang Anda sampaikan dengan penuh keikhlasan terhadap seseorang jauh lebih berharga dari seribu satu kalimat yang Anda sampaikan di jutaan orang demi menarik perhatian massa.

Singkatnya, yang rabbânî itu dari mereka adalah yang berjuang karena Allah, di jalan Allah dan demi meninggikan agama Allah.

Paparan di atas merupakan syarat pertama yang diletakkan Al-Qur’an bagi mereka yang ingin menjadi murabbi yang rabbânî.

Jika ada yang bertanya dan berkata:

“mengapa Al-Qur’an lebih memilih kata rabbânî dari kata murabbi? Tidak pernah ditemukan kata murabbi di ayat manapun. Bukankah kedua kata itu berasal dari akar kata [[4]] yang sama?”

Kepada penanya dijelaskan bahwa tidak semua murabbi rabbânî, tetapi semua Rabbânî itu pasti murabbi. Tentunya, ini menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur’an yang terlihat dari ketelitiannya memilih kata dalam menyuguhkan sebuah pemaknaan.

Jawaban singkat ini akan dijelaskan lebih jauh di syarat-syarat lain bagi mereka yang ingin menjadi murabbi yang Rabbânî sebagaimana berikut:

Syarat kedua dan ketiga: meniti dakwah dan menimba ilmu sebagai jalan hidup

Kedua syarat ini terangkum di kalimat berikut ini:

(بِماَ كُنْتثمْ تُعَلِّمُوْنَ الكِتاَبِ وَبِماَ كُنْتمْ تَدْرُسُون)

Artinya, yang rabbânî dari mereka adalah murabbi yang senantiasa ingin bertatap muka dengan umat, menyampaikan pesan-pesan agama, berpegang teguh kepada syariat dalam menjalankan dakwah dan senantiasa menimba ilmu untuk dibeberkan ke umat, bukan untuk dirinya semata dan disembunyikan dari mereka.

Ini telah ditegaskan oleh telaah Jârullâh az-Zamakhsyarî terhadap ayat di atas, beliau berkata:

“pribadi Rabbânî lahir dari ilmu dan pembelajaran. Sosok yang senantiasa ingin menyalurkan ilmunya, memberi dan menerima, serta tidak mengenal kata bosan dan jenuh dalam belajar dan mengajar. Olehnya itu, yang rabbânî dari mereka adalah yang mengetahui dan mengamalkan pengetahuannya. Orang yang telah menghabiskan umurnya belajar, kemudian tidak mengamalkannya, seperti petani yang menanam pohon dan terbuai oleh keindahannya, tetapi buahnya tidak memberikan manfaat terhadapnya. Pendek kata, Rabbânî itu adalah sosok yang senantiasa ingin mengajarkan dan mengamalkan apa yang diketahuinya.”[[5]]

Olehnya itu, bagi Syekh Abu Suûd sendiri, keurgensian mengamalkan ilmu pengetahuan ditandai oleh penempatan kata (تُعَلِّمُوْن) lebih awal, yang berarti mengajar dan mempraktekkan ilmu, dari kata (تَدْرُسُون) itu sendiri, yang berarti menekuni pelajaran.[[6]]

Meskipun demikian, kedua makna tersebut merupakan organ vital dari lahirnya proses pembelajaran yang benar dan tepat. Pernyataan ini dipertegas oleh Syekh Sya’râwî berikut ini:

“kedua kata kerja tersebut mempunyai makna yang beda. Kata (تُعَلِّمُوْن) artinya: yang rabbânî dari mereka adalah yang senantiasa menyampaikan dan mengajarkan kepada umat metode kehidupan yang bersumber dari Allah, yang demikian itu diatur dalam sebuah mekanisme belajar-mengajar. Dan kata (تَدْرُسُون) artinya: mereka yang senantiasa berupaya memahami pesan-pesan agama secara benar sebelum disampaikan ke umat. Dan pastinya, selagi Anda belajar, tentu mengetahui teks-teks baku yang valid untuk dijadikan metode kehidupan, dan selama Anda belajar-mengajar, tentu memahami tata cara menerima dan menerapkan metode tersebut dengan baik dan benar. Olehnya itu, Anda wajib menjadi sosok rabbânî dalam kedua hal tersebut.”[[7]]

Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî berkata:

“Sesungguhnya ulama-ulama terdahulu sepakat bahwa orang berilmu tidak berhak disebut rabbânî hingga ia mengetahui kebenaran, mengamalkan dan mengajarkannya. Barang siapa yang mengetahui, mengamalkan dan mengajarkannya, maka ia disebut sebagai ilmuwan agung di kerajaan yang ada di langit.”[[8]]

Dari paparan singkat di atas, pemerhati tema-tema keislaman dengan mudahnya menyimpulkan jawaban dari pertanyaan tersebut sebagaimana berikut:

“yang rabbânî dari murabbi adalah mereka yang senantiasa meniti jalan-jalan dakwah, mereka yang gemar belajar dan mengajarkan ilmu, mereka yang mengamalkan ilmu dan ingin menjadi panutan umat, mereka yang berpegang teguh dan taat terhadap ajaran agama, mereka yang berdakwah tanpa mengenal keluh kesah, mereka yang berjuang bukan karena kepentingan golongan dan partai, mereka yang tidak disibukkan oleh banyak dan sedikitnya penyimak, dan mereka yang selalu berjuang karena Allah, di jalan Allah, demi menegakkan dan meninggikan agama Allah SWT.”

Olehnya itu, ambillah satu bentuk keteladanan tarbiyah dari Ibn Abbas! Beliau di hari wafatnya disanjung oleh Muhammad bin al-Hanafiah dalam pujiannya berikut ini: ”hari ini telah berpulang ke rahmatulllah Rabbânî umat ini.“[[9]]



Catatan Kaki:

[1] Lihat: Imam Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabarî, vol. 6, hlm. 539

[2] Imam Jamaluddîn az-Zaelaî’ menyebutkan tempat periwayatan hadits ini di pelbagai buku hadits tanpa memberikan justifikasi hukum, beliau berkata:

“Al-Baihaqî meriwayatkan hadits ini di Dalaîl an-Nubuwwah di Abwab al-Wufud, bab Wafd Nejrân yang perawi-perawinya terdiri dari: Abi Abdillâh al-Hakîm, Muhammad bin Ishâq, Muhammad bin Abî Muhammad (maula Said bin Tsâbit), Saîd bin Jubair atau Ikrîmah, dari Ibn Abbâs.

Hadits ini pun diriwayatkan At-Tabarî di tafsirnya dengan sanad dan matan yang sama, dan al-Wâhidî di Asbabun Nuzul dari al-Kalbî dan Atâ’ dari Ibn Abbâs.” [lihat: Jamaluddin az-Zaelaî', Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Ātzâr al-Wâqiah fi al-Kassyâf li az-Zamakhsyarî, dikomentari dan ditahkik oleh Ali Umar Ahmad Badahdah, dipromotori oleh Prof. Dr. Abdul Majîd Mahmûd Abdul Majîd, (buku ini disertasi pentahkik dalam meraih gelar Doktoral di Universitas Ummul Qurâ' di Mekah al-Mukarramah), [hadits. No: 401], vol. 1, hlm. 815-816].

Meskipun hadits ini tidak dijustifikasi oleh para mufassir dan ahli hadits yang meriwayatkannya, hal ini tidak mencegah Salîm bin Abdu al-Hilâlî, dan Mûsâ Āli Nasr untuk menjustifikasinya sebagai hadits lemah (Hadits Dhaif), mengingat syekh, tempat Ibn Ishaq mengambil hadits darinya tidak diketehui profil dan riwayat hidupnya oleh para ulama. [lihat: Salîm bin Abdu al-Hilâlî, dan Mûsâ Āli Nasr, al-Isti'âb fi Bayân al-Asbâb, Dar Ibn al-Jauzî, cet. 1, 1425 H, vol. 1, hlm. 269].

[3] Syekh Mutawallî as-Sya’râwî, Tafsir as-Sya’râwî, vol. 3, hlm. 1563

[4] Pemaknaan ar-Rabbânî dikembalikan ke (الرَّبّ) dengan tambahan Alif dan Nun, yang artinya: orang yang berpegang teguh dan taat terhadap agama Allah SWT. [Lihat: Jârullâh az-Zamakhsyarî, al-Kasyyâf, vol. 3, hlm. 574]

[5] Lihat: Jârullâh az-Zamakhsyarî, Ibid, vol. 3, hlm. 575

[6] Lihat: Syekh Abu Suûd al-Imâdî, Tafsir Syekh Abu Suûd, vol. 1, hlm. 385

[7] Lihat: as-Sya’râwî, Op.Cit, vol. 3, hlm. 1565-1566

[8] Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî, Zâd al-Maâd fi Hadyi Khairil Ibâd, ditahkik oleh Syuab al-Arnauth, Maktabah ar-Risalah, cet. 7, 1415 h/1994 m, vol. 3, hlm. 10

[9] Lihat: al-Imam al-Bagawî, Maâlm at-Tanzîl, vol. 2, hlm. 61

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16689/siapakah-insan-rabbani-itu/#ixzz1eUyNbWuU

Selasa, 08 November 2011

UANG (bag 3)


Uang (edisi-3)
Oleh: M Anis Matta, Lc

Sekarang saya ingin lebih jauh menembus kembali mengapa kita
miskin selama ini. Sebabnya kita miskin adalah: Pertama, karena kita
memiliki pemahaman agama yang salah. Salah satunya 5 alasan tadi
tidak beredar dikalangan kita. Sekarang coba kita tonton acara TV,
nonton acara ceramah subuh di televisi. Kita akan lihat sebagian besar
ceramah-ceramah televisi itu menyuruh orang-orang miskin itu
semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan ada perang terhadap
materialisme, karena kita harus zuhud sekarang. Pemahaman tentang
kezuhudan itu salah satu pemahaman yang paling banyak merusak
kita. Karena kita tidak tahu bedanya orang zuhud dengan orang
miskin. Imam Ghazali mengatakan orang zuhud itu adalah orang
yang punya dunia lalu meninggalkannya dengan sadar. Orang miskin
itu adalah orang yang ditinggal dunia. Kalau ada orang miskin tidak
dapat makan lalu puasa Senin-Kamis itu bukan orang zuhud. Itu orang
miskin yang berusaha memaksimalisasi kondisi keterbatasannya agar
tetap dapat pahala. Daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih
bagus tidak makan dapat pahala. Orang zuhud itu orang pasca dunia
kalau orang miskin itu orang pra dunia. Kita lihat Rasulullah SAW itu
sudah kaya raya sebelum jadi Nabi. Kemiskinan Rasulullah yang kita
baca di hadits-hadits itu adalah kemiskinan atas pilihan. Itu adalah
pilihannya karena dia punya misi yang jauh lebih besar, yakni: yang
begini itu dia tidak perlu lagi, sudah selesai. Bahkan Rasulullah
mengatakan semua nabi-nabi itu sebagian besarnya kaya. Tidak ada
lagi nabi yang diutus setelah nabi Syu’aib melainkan pasti dia berasal
dar keluarga kaya dari kaumnya. Rasulullah itu mengenal uang waktu
umurnya 8 tahun, dia mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan
pertamanya mengembala kambing. Umur 12 tahun dia sudah pulang
pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman milter, Umur 20 tahun Rasul sudah jadi pengusaha investornya adalah Khadijah. Waktu umur
25 tahun dia nikah dengan investornya. Berapa maharnya? Seratus
ekor unta. Berapa harga seekor unta sekarang? Jauh lebih mahal dari 1
ekor sapi. Kira- kira 10 juta 1 ekor unta jadi totalnya 1 Milyar. Anak
muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar. Itu maharnya tapi yang
disimpan itu masih ada. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi
Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan
mahar yang murah, itu sebagai sistem tapi tradisi jahiliyah itu status.
Oleh karena itu, waktu pamannya yang bernama Abu Thalib
menyampaikan khutbah nikahnya sebagai sambutan keluarga pada
pernikahan Rasulullah SAW, beliau mengatakan sesungguhnya orang
Quuraisy tahu bahwa Muhammad salah seorang pemudanya yang
terbaik, yang paling terhormat. Layaklah dia nikah dengan khadijah
karena maharnya tersebut. Pemuda 25 tahun punya uang 1 Milyar,
sedangkan kita 25 tahun baru selesai Perguruan Tinggi dan karya
terbesar kita adalah menulis lamaran kerja. Ini pemahaman
keagamaan yang beredar dikalangan kita yang membuat kita ini
miskin. Itu sebabnya di Zaman penjajahan dahulu para penjajah itu
dengan sengaja menghidupkan kelompok-kelompok sufi di tengah
masyarakat. Paham sufiyah dihidupkan supaya orang- orang miskin itu
tidak pernah bermimpi menjadi kaya dan merasa benar bahwa dia
miskin. Maka langkah pertama menuju kekayaan adalah perbaiki dulu
pemahaman keagamaan kita. Saya dahulu sekolah di pesantren 6
tahun, tempatnya dulu itu di hutan, bahkan tidak ada mobil lewat di
sana, kalau kita ingin mendapatkan kendaraan umum kita harus jalan
3 km terlebih dahulu. Pada suatu hari ada badai datang dan
menerbangkan seluruh atap gedung, masjid, dan seluruh benda yang
ada disitu. Semuanya mudah diterbangkan karena bangunan yang ada
adalah bangunan murah semuanya. Tiap hari kita makan hanya nasi
dan kecap selama 6 tahun. Setiap kali kita makan, guru saya selalu
bilang ini nasi akan membuat kamu besar. Cuma butuh waktu. Karena
itu fisik saya kecil karena pada masa pertumbuhan kita tidak
mendapatkan gizi yang baik dengan alasan latihan, sabar, perjuangan.
Waktu itu saya bilang ini sekolah sengaja disimpan jauh dari kota
karena kota itu neraka, disini kita hidup dengan cara yang benar.
Waktu itu saya mau ke Jakarta untuk kuliah, saya minta guru saya
istikharah buat saya, satu bulan kemudian saya datang dan dia
menganjurkan kepada saya untuk kuliah di Jakarta saja di LIPIA, karena
LIPIA itu selingkar syurga yang dikelilingi oleh neraka. Itulah
pemahaman keagamaan yang kita warisi. Waktu saya kuliah di LIPIA
juga belajar syariah namun tetap tidak ada yang mengajarkan kita
pemahaman keagamaan yang benar tentang kekayaan. Kedua, karena
kita tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak mengajarkan kita
dasar-dasar yang benar untuk menegakkan kehidupan. Lihat kurikulum yang kita pelajari. Tidak satupun yang kita pelajari di sekolah itu benar-benar kita pakai dalam kehidupan real kita. Sekarang belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD sampai Perguruan Tinggi. Tahun pertama itu 10 tahun, tetapi TOEFL kita tidak bagus-bagus. Padahal bahasa itu
adalah sarana komunikasi yang seharusnya menjadi basic. Begitu juga
tentang uang. Kita tidak pernah sama sekali belajar disekolah tentang
uang. Saya dulu belajar hitung dagang di sekolah tapi itu pelajaran
yang paling kita tidak suka. Jadi lingkungan pendidikan kita juga
seperti itu. Setelah kita tarbiyah pun hal-hal seperti itu belum
diajarkan. Mungkin karena satu hikmah ataupun lainnya yang tidak kita
ketahui. Tetapi kalau kita membaca literatur yang ditulis oleh Imam
Hasan Al- Banna, sebenarnya perhatian ke arah ekonomi itu justru
malah lebih besar dari awalnya. Bahkan muncul gagasan ekonomi
Islam itu adalah anjuran dari beliau. Salah satu rintisan dari beliau
untuk memperbaiki kehidupan ekonomi ummat Islam. Oleh karena itu
saya menganjurkan kepada ikhwah di kaderisasi untuk segera
membuat materi tatsqif tentang uang, karena itu perlu. Ketiga, karena
kita ini memiliki ciri- ciri orang miskin dalam kepribadian. Ciri orang
miskin: Pertama, orang miskin itu tidak pernah bermimpi jadi orang
kaya. Kalau kita baca buku The Millionaire Mind (pemikiran milioner), di
dalam buku tersebut disebutkan fakta bahwa di kalangan orang miskin
itu berkembang ide-ide yang membuat mereka itu miskin. Salah
satunya karena memang mereka tidak punya mimpi jadi orang kaya.
Waktu sekolah saya pernah ikut kursus keterampilan membuat sepatu,
jadi saya bisa membuat sepatu. Karena kita mindset-nya disiapkan
untuk menjadi buruh, kalau tidak bisa menjadi guru bahasa Arab
akhirnya menjadi tukang sepatu. Kita lihat rintisannya. Jadi kita tidak
pernah punya mimpi untuk menjadi kaya. Contohnya, kalau kita lihat
orang pakai mobil Mercy, tidak pernah terpikir oleh kita kalau kita juga
ingin punya mobil Mercy. Yang terpikir oleh kita adalah tega-teganya
orang ini pakai Mercy.

Pertama kali Ketua Majelis Syuro membangun rumah, banyak sekali
ikhwah yang protes. Saya bilang kenapa kalian protes. Dia pinjam uang
antum. Saya datang ke rumahnya, Masya Allah rumahnya bagus. Ya
Allah berikanlah saya model rumah yang seperti ini. Kalau kita melihat
mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar di mobil itu, sapu baik-
baik lalu berdo’alah. Ketika tinggal di rumah mertua, saya bisa tinggal
di tempat yang luasnya beberapa ribu meter. Cuma saya bilang, saya
tidak ingin didominasi oleh mertua. Jadi setelah menikah saya bilang
saya mau keluar dari rumah ini. Kata mertua saya, “Kamu mau tinggal
dimana?” Itu urusan saya, satu tahun saya sudah tinggal di sini. Saya
keluar. Lalu saya kontrak rumah. Rumah saya itu mirip kandang ayam,
triplek-triplek saja. Ada 3 petak rumah, kalau kita bersin disini akan
terdengar oleh semua tetangga. Lantainya sebagian itu berupa tanah
dan saya pun tidak punya kasur. Saya punya kasur setelah anak ke-3
saya lahir. Istri saya kalau sudah hari Sabtu atau Minggu mengajak pulang. Saya tahu dia ingin balik ke sana, Tapi kita belajar menata hidup kita sendiri, tidak tergantung dari orang. Setiap hari saya lewat
di depan sebuah rumah besar halamannya luas. Kalau saya lewat
rumah itu saya berjalan pelan-pelan sambil menunggu bis dari Al-
Manar. Saya melewati rumah itu yang terletak di pojok halaman yang
luas dan ada banyak pohon-pohonan. Saya usap itu temboknya.
Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya. Apabila saudara antum
punya mobil, antum jangan marah padanya. Jangan Tanya uangnya
dari mana. Jangan Tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap-
usap mobilnya. Sekarang kalau saya mau ke DPP tiap hari lewat
Menteng, lewati rumah yang bagus-bagus, disitu juga ada masjid yang
besar bernama Sunda Kelapa. Saya suka berdo’a juga disitu. Ya Allah,
saya ingin tinggal disamping masjid ini, bagaimana caranya atur ya
Allah. Syurga aja kita pinta, apalagi rumah. Suatu waktu saya
pernah naik private jet punya Abu Rizal Bakrie waktu itu jauh sebelum
era partai karena saya suka ceramah di rumahnya. Kita pergi naik
private jet nya. Enak juga naik private jet. Saya berdo’a juga disitu.
Saya juga ingin yang seperti ini karena enak. Syurga aja kita pinta
apalagi seperti ini. Kemarin Muraqib ’Am ditanya oleh kader. Kadernya
protes, “Ustadz Hilmi anggota dewannya sudah mulai pada borju
semuanya. Di jawab oleh ustadz Hilmi mereka tidak borju cuma
menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya. Jadi
kalau ikhwah pada kaya-kaya saya juga bahagia. Saya paling senang
kalau ada ikhwah yang punya private jet, perlu didorong itu. Jadi kita
tidak perlu belanja tiket lagi kalau ingin ke Riau. Tidak terikat dengan
jadwal penerbangan regular. Dan saya Tanya harga private jet itu,
setidak-tidaknya kita sudah tahu harga private jet itu. Sewaktu-waktu
saya naik mobil Land Cruiser punya teman saya, mobil saya Kijang.
Saya bilang mobilmu lebih enak dari mobil saya. Dia bilang kenapa.
Saya bilang saya pikir mobil saya itu lebih enak dimuka bumi, ternyata
mobil bapak lebih enak. Memang mobil kamu apa, saya jawab Kijang.
Dia bilang, “Oh itu mobil masa lalu saya”.

Ikhwah sekalian.

Karakter orang miskin itu harus kita hilangkan, itu sebabnya kita miskin. Karena tidak punya mimpi menjadi orang kaya. Kedua, kita ini umumnya tidak ulet. Senang difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di Melayu, pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi hadiah. Bahagia dan bangga kalau ditraktir makan daripada kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di negeri ini, karena dia lebih rajin bekerja. Saya pernah mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya kasih kertas besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua mereka membuat gambar yang sama. Sebuah rumah disampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada masjid, kemudian ada pesawat terbang dan ada ka’bah. Saya harus menjelaskan. Dia bilang nanti saya berharap insya Allah sudah naik haji sebelum pensiun, setelah pensiun nanti saya punya rumah di desa di sampingnya ada sawah-sawah, disampingnya lagi ada masjid. Jadi dia
Ibadah kerjanya. Saya bilang bapak pensiun umur berapa. Dia bilang
55 tahun. Mau menghabiskan sisa umur di desa di samping masjid dan
di samping sawah. Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah SWT
berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan disamping
sawah. Begitu cara kita berfikir, kita menghindari tantangan. Saya
pernah ceramah di Direktur BULOG, dia mau pensiun dini, dia
tinggalnya di Patra Kuningan dekat rumahnya Pak Habibie. Saya
diminta mengisi ceramah di rumahnya tentang menajemen harta
untuk lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari Fakultas Ekonomi
semuanya. Saya bilang bapak setelah pensiun nanti mau tinggal
dimana. Dia bilang mau balik ke kampung halamannya di Solo. Saya
Tanya Solonya dimana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Dia sudah
punya rumah di sana, di sampingnya ada sawah-sawah, ada masjid,
persis seperti gambar orang Telkom itu. Saya bilang kenapa tidak
tinggal di Jakarta. Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di Jakarta
setelah pensiun. Biaya mahal, anak saya sedang pada kuliah
semuanya saya tidak kuat nanggung. Coba kita lihat waktu
pendapatan kita berkurang yang kita lakukan itu adalah mereduksi dan
mengurangi kegiatan kita supaya kita menyesuaikan diri dengan
pendapatan, seharusnya ketika pendapatan kita berkurang bukan
kegiatan yang kita reduksi tapi yang kita lakukan adalah tetap
memperbanyak kegiatan dan menambah pendapatan. Jadi saya
bayangkan kalau bapak di kasih umur 80 tahun, bapak akan tinggal di
kampung itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba menghayal-hayal
kira-kira jadwal hariannya seperti apa. Jam 3 insya Allah dia akan
bangun qiyamul lail sampai subuh dia sudah tidak tidur karena orang
kalau sudah diatas 40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya cuma 2
jam, setelah subuh mungkin dia nanti wirid, setelah itu dia pergi jalan
pagi, mungkin aktifitas jalan pagi dan lainnya selesai jam 7. Setelah itu
dia mandi lalu sarapan dia baca Koran. Katakanlah selesai jam 9.
Setelah itu dia shalat dhuha. Setelah itu tanda Tanya karena tidak ada
kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk waktu zuhur sebelumnya dia
punya waktu 3 jam, setelah itu dia makan siang setelah itu dia bangun
tidur siang, bangun ketika ashar. Ashar sampai maghrib dia lakukan
duduk- duduk di teras minum kopi sambil memandang sawah.
Sebelum maghrib dia mandi, setelah maghrib dia makan malam
sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah shalat isya melihat televisi
sebentar setelah itu dia tidur lagi. Kita lihat tidak ada waktunya yang
produktif. Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu tidak
perlu ditunggu nanti dia akan datang sendiri kenapa kita tunggu-
tunggu dia. Kita lihat cara kita merencanakan hidup. Seharusnya di
usia seperti itulah kita bekerja makin giat karena jadwal kitra makin dekat. Kematian kita makin dekat bukan makin terserah tetapi begitulah pikiran yang ada pada orang-orang miskin, orang-orang ini tidak ulet, menghindari tantangan, tidak ingin kerja keras. Karena itu rata-rata jadwal kerja orang miskin itu dibawah 8 jam. Sementara jadwal kerja orang kaya itu diatas 15 jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja mereka juga banyak.

Bersambung

Sabtu, 05 November 2011

KHUTBAH IDUL ADHA 1432H


Khutbah Idul Adha 1432 H: Empat Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya
Khutbah Idul Adha
3/11/2011 | 06 Zulhijjah 1432 H | Hits: 10.128
Oleh: Andi Kartito, SPdI.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر 3X

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ilustrasi (aishagrace.wordpress.com)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

dakwatuna.com - Puja dan Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita sangat banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah Swt tidak memerintahkan kita untuk menghitung tapi mensyukurinya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Pada hari yang mulia ini, 10 Dzulhijah 1432 H seluruh umat Islam di seantero dunia memperingati hari raya Idul Adha atau hari raya qurban. Sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah 1432 H, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah, berkumpul di Arafah dengan memakai ihram putih sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya kecuali takwa kepada Allah. Dan Hari ini juga kita kembali di ingatkan kepada kisah seorang kholilulloh kekasih Allah SWT, nabi Ibrahim as yang Allah uji kecintaannya, antara cintanya kepada keluarga ( nabi Ismail as dan Siti hajar ) dan cintanya kepada Allah. Alhamdulillah cintanya kepada Allah melebihi dari segalanya, hal ini membuat kita bahkan nabi Muhammad SAW harus mengambil pelajaran darinya.

Allah berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Minimal ada Empat pelajaran yang terdapat dari kisah nabi Ibrahim as dan keluarganya:

Pesan Pertama: Berbaik sangka kepada Allah SWT

Di dalam kitab; Anbiyaa Allah ( Nabi – Nabi Allah) di karang oleh Ahmad Bahjat beliau menjelaskan.

Pada suatu hari, Ibrahim as terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan kepada istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan yang panjang. Pada saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.

Ibrahim as melangkahkan kaki menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak di tumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, tidak ada minuman, tempat itu menunjukkan tidak ada kehidupan di dalamnya.

Di tempat itu beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Siti hajar terperangah diperlakukan demikian, dia membuntuti suaminya dari belakang sambil bertanya“Ibrahim hendak pergi ke manakah engkau?” Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?

Ibrahim as tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, Siti hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim as tetap membisu. Akhirnya Siti hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya,“apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami? Ibrahim menjawab, “benar“. Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,” kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dia-lah yang telah memerintahkan engkau pergi. Kemudian Ibrahim terus berjalan meninggalkan mereka.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Siti hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah SWT mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat melukainya.

Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka akan tetapi karena sedikitnya husnu dzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah, Padahal nikmat yang Allah berikan lebih banyak dari pada siksanya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah karena Allah menjelaskan dalam hadits qudsi bahwa Dia sesuai prasangka hambanya;

Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah saw.: Allah berfirman:“Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Allah akan berbuat terhadap hamba-Nya sesuai persangkaannya. Jika hamba itu bersangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Jika hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya.

Seorang hamba yang bijak adalah mereka yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak merasa dimuliakan dengan kenikmatan duniawi tersebut. Jika ia diuji dengan penderitaan atau kekurangan, ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar ia dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.

Kita harus belajar kepada Siti hajar walaupun dia seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian di tinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang, tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Allah pasti akan membantunya, kisah ini bukan hanya untuk Siti hajar saja, kisah ini bukan untuk zaman itu saja, akan tetapi kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala hal.

Pelajaran kedua: Mencari rezeki yang halal

Setelah Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya berdakwah kepada Allah. Siti hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang di bawah habis, air susunya pun kering. Siti hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti hajar.

Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari – lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Di taruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari – lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun.

Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis . tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti hajar bolak – balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Ada rahasia yang jarang di kupas dari kejadian ini..

Yaitu kesungguhan Siti hajar dalam mencari air di keluarkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena Kita di perintahkan bukan Cuma melihat hasil tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan, Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, ‘Kenapa tanganmu ?’

Sa’ad menjawab, ‘ Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,’

Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata,’Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka,’

Hikmah dari kisah ini yaitu terdapat tanggung jawab seorang Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari dalam menafkahi anak dan istrinya melalui rizki yang halal. Tangan yang semata-mata berada di jalan Allah SWT dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan Amanah.

‘Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.’(HR. Thabrani).

Rasulullah SAW bersabda,“Tidaklah sekali-kali seseorang itu makan makanan lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Daud AS itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari).

Bahkan Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴿١٠﴾

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah: 10)

ayat ini memotivasi kita untuk bekerja keras, setelah melaksanakan shalat karena dengan bekerja kita akan mendapatkan rezeki yang halal.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita, karena tidaklah tubuh yang di dalamnya ada barang haram kecuali neraka adalah lebih berhak untuk menjadi tempat kembalinya.

Rasulullah SAW: Wahai Sa’ad, murnikanlah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul doanya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

Dan juga ketika tubuh termasuki dengan barang haram maka selama 40 hari amal ibadahnya tidak di terima Allah akan tetapi dosa – dosa yang diperbuatnya di catat oleh malaikat.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT

Pelajaran yang ke tiga: Berkorban untuk Allah SWT

Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim as tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim as dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴿١٠٢﴾

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash Shaaffat: 102 )

Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim as pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya? Salah besar jika ada yang mengira bahwa tidak ada pergulatan pada diri Ibrahim as. Tidak mungkin ujian sebesar ini terbebas dari pergulatan batin. Ibrahim berpikir,” mengapa? Ibrahim membuang jauh-jauh pikiran itu. Bukan Ibrahim namanya jikalau beliau mempertanyakan kepada Allah“mengapa” atau“karena apa“karena orang yang mencintai tidak akan bertanya mengapa? Ibrahim hanya berpikir tentang putranya, apa yang harus beliau katakana kepada anak itu, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?

Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata yang jujur dan lemah lembut kepada putranya, ketimbang menyembelihnya secara paksa.

Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail dan ayahnya Ibrahim mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Walaupun yang di korbankan adalah diri Ismail.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang di ajari oleh seorang anak dan ayahnya tentang makna pengorbanan kepada Allah dalam segala hal di kehidupan ini,

Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah, sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“

Akan tetapi, pengertian korban bukan sekadar menyembelih binatang korban dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.

Dalam konteks sejarah, dimana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam di Mekah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy. Rasulullah pernah ditimpuki dengan batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith, ketika leher beliau dicekik dengan usus onta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang, Yasir dibantai, dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.

Tak hanya itu, umat Islam di Mekah ketika itu juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW. saat-saat diboikot oleh musyrikin Quraisy, hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Pelajaran keempat adalah Mendidik Keluarga

Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya dan Siti hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar jika tidak di didik oleh nabi Ibrahim as. Dan nabi Ibrahim as tidak akan dapat sabar jika tidak didikan dari Allah SWT melalui wahyuNya.

Seorang anak dalam perkembangannya membutuhkan proses yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlaq mulia sangat dibutuhkan, perhatian sempurna kepada anak semenjak dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai masa Kewajiban ini diberikan di pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat. Karena seseorang yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak dianggap orang yang mengkhianati amanah Allah. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah Swt. Pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang perlakuan mereka kepada anaknya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16155/khutbah-idul-adha-1432-h-empat-pelajaran-dari-kisah-nabi-ibrahim-as-dan-keluarganya/#ixzz1fHFVIP7i

Sabtu, 15 Oktober 2011

SIKAP PKS HASIL RAPIMNAS

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq mengatakan, sikap politik PKS dalam koalisi tetap akan berbasis pada kontrak koalisi yang telah disepakati bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu dikemukakan Luthfi setelah PKS melakukan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang telah berahkir hari ini.

"Kita telah putuskan empat sikap kita terkait reshuffle. Salah satunya, sikap kita dalam koalisi akan tetap kepada code of conduct, maupun kesepakatan-kesepakatan khusus lain, yang tercantum dalam kontrak koalisi antara PKS dengan Presiden SBY," ujar Luthfi saat melakukan konferensi pers di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (15/10/2011).

Ditambahkan, dalam hal reshuflle, PKS tetap menilai hal tersebut adalah hak Prerogatif Presiden. Menurutnya, reshuffle tersebut merupakan tanggung jawab sepenuhnya Presiden SBY. "Jadi segala implikasi kebijakan tersebut bukan tanggung jawab mitra koalisi atau yang lainnya," kata Luthfi.

Dalam Rapimnas tersebut juga, PKS tetap berasumsi reshuffle kabinet akan tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan obyektif, profesionalisme, dan transparansi. Menurut Luthfi, reshuffle juga akan dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja kabinet dalam persoalan yang membelit pemerintahan, serta akan menjadi asumsi tantangan yang akan datang.

"Jadi kami yakin Presiden akan melakukan hal tersebut dengan baik, karena akan sangat mempertaruhkan kredibilitas Beliau sendiri," jelas Luthfi.

Selain itu, dikatakan Luthfi, PKS akan merespon langkah-langkah reshuffle tersebut secara proporsional pada forum Majelis Syuro. Dalam forum tersebut, Majelis Syuro akan mengambil keputusan berdasarkan opsi-opsi dan masukan dalam rapimnas.

"Sikap kita tidak akan berubah sampai reshuffle itu sudah diumumkan secara langsung oleh Presiden. Setelah itu, kita akan melakukan forum di Dewan Majelis Syuro untuk mengambil sikap resmi kita. Dan intinya seluruh jajaran pimpinan PKS dari pusat hingga daerah serta kader-kadernya pun akan selalu siap bekerja dalam situasi apapun," tegas Luthfi. (kompas)

Kamis, 13 Oktober 2011

NIKMATI JALAN DAKWAH,SEBAGAI APAPUN atau TIDAK SEBAGAI APAPUN


Oleh : Cahyadi Takariawan*
Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.

Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.


Kamu siapa ?

“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.


Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.

Kamis, 06 Oktober 2011

JANGAN SAMAKAN PENDAPAT PRIBADI DENGAN LEMBAGA



Oct 05, 2011

JAKARTA—Anggota dewan memiliki hak konstitusi untuk menyampaikan pendapat. Dan pendapatnya tersebut tidak harus selalu dimaknai sebagai pendapat struktur partai atau fraksi di mana anggota dewan bersangkutan bernaung.

Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengemukakan hal itu, Selasa (4/3) di tengah-tengah kesibukannya dengan para kader. “Di negara demokrasi setiap orang bebas menyatakan pendapat. Dan itu dilindungi oleh konstitusi, apalagi anggota DPR. Pernyataannya tidak harus selalu dimaknai mewakili lembaga tempat dia berafiliasi. Sebagai politisi dia berhak mewakili dirinya sendiri,” ujar Luthfi.


Apalagi jika yang disampaikannya berkait dengan fungsi dan tugasnya sebagai anggota dewan, yang meliputi fungsi anggaran, legislasi, dan pengawasan.

Adalah kewajiban kalangan akademisi, LSM, parpol dan pihak-pihak terkait, untuk mencermati, mendalami konsideran, dan latar belakang setiap statemen mereka. Jika yang disampaikan tidak relevan bisa diabaikan. “Tetapi jika benar dan baik bagi sistem kenegaraan kita, bisa ditindaklanjuti dan dirumuskan untuk menjadi kebijakan kolektif,” imbuh dia.

Belakangan muncul kontroversi mengenai pernyataan anggota Fraksi PKS Fahri Hamzah yang mewacanakan pembubaran KPK. Sementara F-PKS merasa belum membahasnya. Jika pendapat itu disampaikan dalam rangka pengawasan dan dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Komisi III, DPR RI hal itu sah-sah saja. “Dan itu tidak harus dihubung-hubungkan dengan sikap FPKS,” kata Luthfi.

DPP PKS akan mengajak Fraksi PKS untuk mendalami wacana tersebut secara objektif dan tidak emosional. Karena PKS sendiri saat ini tidak dalam posisi mengkaji secara khusus posisi KPK, di antara institusi penegak hukum lainnya dalam pemberantasan korupsi.

Ke depan, karna banyaknya permasalahan nasional yang belum tuntas, Luthfi menyarankan pada semua kalangan untuk selalu mendiskusikan bersama secara cermat dan utuh tema-tema yang dilontarkan para politisi berikut latar belakang gagasannya.

Luthfi menegaskan, PKS sangat konsern pada pemberantasan korupsi, termasuk penguatan seluruh instansi yang mendapatkan mandat konstitusi untuk menjadi bagian dari perjuangan pemberantasan korupsi. Harus disadari KPK tidak mungkin menyelesaikan seluruh kasus korupsi yang ada sendirian. Karena itu KPK harus menetapkan skala prioritas berdasarkan kepentingan nasional secara obyektif, bukan berdasarkan kepentingan pihak-pihak yang memiliki akses kuat ke KPK dan atau personilnya.

Banyak kasus-kasus besar yang harus dituntaskan KPK, diantaranya kasus Bank Century yang telah direkomendasikan lembaga tinggi negara seperti DPR dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai kasus yang dinyatakan terdapat indikasi kuat pelanggaran. Namun KPK belum juga bergerak. Hal ini tentunya menimbulkan tanda tanya besar.

Sabtu, 01 Oktober 2011

BERSYUKUR dengan yang sedikit

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus merasa kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.

Syukuri yang Sedikit

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667). Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

Kita Selalu Lalai dari 3 Nikmat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.

Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.

Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.

Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Kesehatan Juga Nikmat

Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.” (Dinukil dari Fathul Bari, 11/230)

Rizki Tidak Hanya Identik dengan Uang

Andai kita dan seluruh manusia bersatu padu membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita akan mendapati kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ( إبراهيم

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai nikmat atau rejeki saja tidak?

Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang barangkali kita pernah mendengarnya disebutkan,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya tidak menyadarinya, akan tetapi malah mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai nikmat Allah lainnya?

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Imam As Syafii berkata, “Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya.” (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)

Wajar bila Allah Ta’ala menjuluki manusia dengan sebutan “sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ

“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj: 66)

Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki, anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.

Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta

Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 11)

Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya bersyukur adalah dengan meninggalkan saat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Sabic Lab KSU - Riyadh KSA

After Zhuhur, 3rd Dzulqo’dah 1432 H (01/10/2011)

www.rumaysho.com

Jumat, 30 September 2011

TAHLIL 100 kali sehari


Tahlil Seratus Kali Sehari
Ihsan Tandjung



Islam memang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan membaca suatu lafal wirid tahlil tertentu sebanyak seratus kali setiap hari, maka Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjanjikan setidaknya empat manfaat. Kalimat tersebut berbunyi sebagai berikut:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ

وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada ilah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa.”

Dalam sebuah hadits beliau menjanjikan empat manfaat yang bakal didapat si muslim sepanjang hari di mana ia membaca lafal tersebut sebanyak seratus kali.

Pertama, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa muslim tersebut seolah telah memerdekakan sepuluh budak. Subhaanallah. Islam sangat menghargai orang yang memerdekakan budak. Berarti ia telah memberikan kesempatan bagi manusia tersebut untuk menjalani kehidupan yang lebih terhormat sebagai orang merdeka. Kedudukannya telah diangkat dari tempat yang semula rendah dan hina menjadi tinggi dan mulia. Pantas bilamana salah satu misi Islam yang dijelaskan oleh Rib’i bin Amer kepada Panglima Persia berbunyi:

ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده

“Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata”

Kedua, Allah mencatat bahwa ia telah memperoleh seratus kebaikan. Pada hari berbangkit manusia sangat berharap bahwa dirinya memiliki kebaikan yang banyak untuk memberatkan timbangan neraca mizannya. Ia sangat khawatir bilamana ia mendapati bahwa timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya. Sebab setiap amal ada ganjarannya dari Allah subhaanahu wa ta’aala. Kebaikan diberi hadiah sedangkan keburukan diberi hukuman.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS Az Zalzalah 7-8)

Ketiga, Allah hapuskan seratus kesalahan yang telah dilakukannya. Subhaanallah. Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan. Setiap hari ada saja kesalahan yang manusia lakukan. Berarti wirid ini sangat penting untuk men-delete berbagai kesalahan yang sadar maupun tidak sadar kita lakukan.

Keempat, Allah janjikan akan membentengi seseorang dari gangguan syaithan selama sehari-semalam. Padahal syaithan telah berbulat tekad untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Berarti dengan wirid ini seseorang akan memperoleh immunity setidaknya selama satu hari dari tipu daya syaithan.

Selengkapnya hadits tersebut berbunyi sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ (البخاري)

Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, "Brgsiapa membaca

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada ilah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa.” sebanyak seratus kali dalam sehari, maka hal itu setara dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dituliskan untuknya seratus kebaikan serta dihapuskan beginya sertus kesalahan lalu ia memperoleh perlindungan dari syaithan pd hari tersebut sampai sore hari dan tidak seorangpun yang bisa menandinginya kecuali orang yang ber-'amal melebihi daripada itu." (HR Bukhary)

Selasa, 27 September 2011

IMPIAN HARI INI ADALAH KENYATAN HARI ESOK


27 September 2011
* Impian Hari ini adalah Kenyataan Hari Esok *
Saudaraku,

Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

Allah swt. berfirman,
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)

Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.

Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, karena bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.

Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, karena kita memang tidak mengenal kata "berhenti" dalam berjihad.

Allah swt. berfirman,
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. "(Al-Ankabut: 69)

Hanya Allah-lah Dzat yang Maha Agung, bagi-Nya segala puji.

(Hasan Al-Banna)

Jumat, 23 September 2011

KETELADANAN DALAM JAMA'AH


Mengedepankan Keteladanan dan Kepemimpinan yang Baik


Perilaku dan amal para da’i adalah cerminan dari da’wahnya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Slogan mereka adalah "ashlih nafsaka, wad’u ghairaka" (perbaiki dirimu, kemudian serulah orang lain).


Rasulullah SAW telah menampilkan keteladanan ini dalam dirinya. Sungguh, beliau adalah teladan yang sempurna bagi manusia. Ia adalah teladn bagi setiap da’i, setiap pemimpin, setiap bapak dari anak-anaknya, setiap suami dari istrinya, setiap sahabat, setiap murabbi, setiap praktisi politik, dan berbagai posisi sosial manusia yang lain.


Dengan cara inilah, Rasulullah sukses dalam mengkader sahabat-sahabatnya. Islam menampilkan keteladanan sebagai sarana da’wah dan tarbiyah yang paling efektif. Sehingga Islam menetapkan sistem tarbiyah yang kontinyu atas dasar prinsip keteladanan tersebut. Sesungguhnya, kebaikan amal seorang da’i adalah khutbah yang paling mantap. Akhlaknya yang mulia adalah "sihir" yang memikat hati. Karena itulah, seorang da’i yang sukses adalah da’i yang mengajak kepada kebenaran dengan perilakunya, meskipun dia sedikit bicara. Karena

pribadinya telah menjadi contoh yang hidup dan bergerak. Memperagakan prinsip-prinsip yang diyakininya.


Munculnya gejala penurunan kualitas kader sekarang ini sangat mungkin disebabkan karena lemahnya keteladanan yang ditampilkan para du’at dan para pemimpin. Mereka tidak bisa belajar secara langsung tentang kebaikan dari da’i dan pemimpinnya. Atau bahkan mereka dikacaukan dengan perilaku kontradiktif dari da’i dan pemimpinnya.


Untuk itu, apapun upaya peningkatan kualitas kader yang kita lakukan, pada akhirnya harus disempurnakan dengan keteladanan dan kepemimpinan yang baik dari para murabbi dan da’i. Kita tidak berhak menggugat kader yang lemah kualitasnya, selama kita sendiri belum mampu mengajarkan dan menunjukkan mereka tentang keteladanan

Rabu, 21 September 2011

"MENCARI MAKNA KRISIS"


Mencari Makna "Krisis" by : Abdullaah Muadz
oleh Abdullah Muadz Satu pada 19 September 2011 jam 6:03

” Begitu Jelas kerusakan yang terjadi didaratan dan dilautan, yang smua itu disebabkan oleh ulah tangan manusia, maka sengaja Kami timpakan siksa dari sebagian akibat perbutan mereka, agar mereka mau kembali kepada Allah SWT.” ( Surah Ar-Ruum (30) ayat : 41 )



Menjelang kejatuhan Soeharto hingga hari ini kata ”Krisis” terus dikumandangkan. Berbagai seminar diskusi dan workshop telah digelar. Sampai kepada Presiden pun membentuk team penanggulangan krisis. Tetapi ternyata kita makin terpuruk, makin mundur kebelakang. Jangankan untuk bisa menyelesaikannya, mengerti arti krisis saja masih harus dipertanyakan.

Apakah Mereka yang sering bicara krisis, sampai berbusa itu mulut, sudah mengeri apa arti krisis?. Apakah sudah terinternalisasi dalam jiwa dan hatinya. Apakah kita siap membangun negara ini dengan paradigma krisis. Apakah kita siap menyusus APBN dan APBD dengan asumsi bahwa negara kita sedang Kere.

Ternyata semua masih dipertanyakan. Kalo kita lihat gaya hidup dan prilaku masyarakat sehari-hari tidak mencerminkan sedikitpun bahwa kita sedang krisis. Yang antri beras bisa pegang HP, yang di Tenda pengungsian masih bisa joged. Begitu juga acara-acara di Televisi kita lihat sama persis dengan negara-negara maju, bahkan lebih glamour dan lebih norak dari negara yang sudah maju.

Jadi yang perlu kita sepakati lebih dahulu adalah benar atau tidak sih kita sedang krisis...? Kok yang beli BMW bisa Indent, Real Estate laku keras, villa mewah kaya kacang goreng, jual motor di tenda pinggir jalan sama dengan jual pecel lele, apalagi yang jual HP cukup dengan lapak-lapak. Mall-mall, ITC tumbuh subur kaya jamur dimusim hujan. Sekali lagi apanya yang krisis…?

Melihat pemandangan itu sepertinya negara kita sudah sangat makmur dan sudah sangat maju..??? apa sebenarnya terjadi pada bangsa ini. Disisi lain orang sedang banyak yang teriak-teriak krisis. Jadi apa yang krisis..? diamana krisis itu ada...? kaya apa sih sebenarnya kalo kita sedang krisis.. dan pertanyaan lainnya.

Aneh tapi nyata kita sering mendengar berita orang yang antri beras miskin, bahkan sampai ada yang mati terjepit, ada antri minyak tanah, ada sudah biasa makan tiwul dan gaplek, ada yang sudah sering makan nasi aking, seorang petani bisa makan dengan lauk pauk hanya tiga gari setelah panen. Setelah itu biasa makan dengan sambal dan lalapan. Bahkan baru-baru ini kita mendengar seorang ibu dan seorang anak meninggal karena kelapran di Sulawesi Selatan, lumbungnya padi. Angka kelaparan, busung lapar, kurang gizi terus bertambah. Bellum lagi pengemis, pengamen, copet, pencurian, perampokan dan sebagainya ada dimana mana. Dalam kondisi kere seperti ini kita melihat pola tingkah laku anak bangsa dengan gaya hidupnya yang tidak sama sekali mencerminkan bahwa negara ini sedang krisis.

Lebih jelas lagi bisa kita lihat dalam penyusunan APBD dan APBN, sama sekali tidak mencerminkan negara kita sedang krisis. Inefisiensi masih terus ada. Anggaran untuk simbol kemewahan, ceremonial, gagah-gagahan, pamer gengsi, atribut upacara, sampai kepada proyek fiktif masih terus berlangsung. Bisa kita banyangkan jika anggaran sepak bola berpuluh kali lipat dari pada anggaran Kesra. Ada daerah anggaran sepak bola 17 miliyar sementara anggaran Kesra 100 Juta. Ada juga sepak bola 7 miliyar anggaran pembinaan UKM (Usaha Kecil Menengah) Cuma 25 juta..??? Alhamdulillah sekarang sudah ada Keputusan Mendagri tetang penggunaan APBD.

Rupanya banyak pejabat yang nyaman, kerena sudah merasakan nikmatnya berpuluh-puluh tahun kebobrokan negara ini. Sebaliknya mereka merasa terancam jika terjadi reformasi yang sesungguhnya, mareka takut terhenti kenikmatannya kalau negara ini menjadi lebih baik. Sehingga bagaikan narkoba, dipakai terus makin membayakan, ditinggalkan susah karena sudah kecanduan. Atau pepatah mengatakan "Mengambil kesempatan dalam kesempitan".



Perlunya Diagnosa Tuntas



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi krisis ini, mulai dari wacana sampai pada tindakan nyata. Tapi sangat disayangkan masih bersifat Arifisial, Belum sampai kepada yang lebih subtsansial. Seringkali kesalahan dimulai dari diagnosa yang tidak tuntas, baru menemukan gejala sudah disebut penyakit. Misal seseorang batuk, itu gejala penyakit, bukan nama penyakit, penyakitnya mungkin saja atsma, radang tenggorakan, TBC dan lain lain. Begitu juga panas dingin itu bukan penyakit. Penyakitnya mungkin demam, flu, typus dan sebagainya.

Kalau sudah ditemukan penyakit dengan tepat baru bisa dicari obat yang pas buat penyakit tersebut. Begitu juga nasib bangsa yang sedang sakit seperti sekarang ini butuh diagnosa yang mendalam, sampai ketemu pangkal persoalannya, atau akar masalahnya. Baru nanti di tentukan kebijakan dan tindakan apa yang tepat untuk menanggulanginya.

Sebagai contoh kemacetan lalu-lintas yang sering terjadi terutama di Jabodetabek, sebagian besar kesalahan ada pada perencanaan dan tatakota, tapi yang sering disorot biasanya polisi atau kedisiplinan masyarakat. Ambil kasus Depok, jalan Margonda yang cuma 4 Kilometer didirikan 6 buah pusat keramayan dan perbelanjaan setingkat Mall atau ITC. Belum lagi yang menengah dan toko kecil memenuhi kiri kanan margonda raya. Polisi mana yang sanggup mengatasi dampak kemacetannya. Tetapi mengapa tidak ada yang mempersoalkan tatakota.

Begitu juga kalau kita bicara korupsi, selalu saja yang jadi sorotan penegakan hukum. Siapa pejabat penegak hukum yang belum pernah mencicipi Kue Korupsi Negara..?. Kalau ada berapa jumlahnya...? Berapa perbandingan antara aparat penegak hukum yang dianggap masih bersih dengan jumlah kasus yang antri untuk diselesaikan. Ada yang berpendapat kita mulai dari menyeret koruptor kelas kakap dulu. Kalau begitu kita butuh penegak hukum berkelas Paus atau Hiu setidak-tidaknya. Harus disiapkan aparat yang bermental baja, berhati malaikat, berkacamata yang sanggup menyensor deretan angka nol dalam gepokan uang, sehingga tidak gemetar ketika mlihatnya. Akhirnya belunder lagi.

Jarang sekali dibahas mulai dari akar budayanya. Sampai acara ruatanpun masih dipertahankan bahkan dilestarikan, padahal jelas-jelas ritual sogok dan KKN, Irrasional, karena kita disuruh takut dengan tokoh fiktif dalam dongeng yaitu Batarakala. Kita diancam kalau punya anak tunggal laki-laki, anak kembar, di tengahnya laki-laki dan sebagainya. Supaya selamat dari ancaman kita harus mempersembahkan sesuatu dengan acara ritual ruatan.

Sekarang kita tidak hanya sedang berhadapan sistem yang bobrok, tetapi juga kita behadapan dengan sebuah budaya peradaban serta peradigma yang sangat buobrok. Maka seharusnya tindakan dan kebijakan yang dibuat mengarah bagaimana merubah kultur dan budaya. Harus memikirkan perangkat apa yang harus dipersiapkan merubah budaya yang sudah seperti ini. Bukan kebijakan yang tambal sulam, jangka pendek apalagi kebijakan prgamatis untuk modal bertarung pada pemilu yang akan datang.

Belum terlihat figur-figur yang betul-betul serius memperjuangkan nasib rakyat dan bangsa. Yang paling menonjol sekarang ini adalah perlomba’an untuk mempersiapkan pemilu demi pemilu. Persaingan untuk mendapatkan kursi-kursi empuk dan basah. Perebutan sarana-sarana penunjang untuk mendokrak suara. Sampai pada melirik bokong-bokong bahenol untuk diajak ngebor dipanggung kampanye agar bisa menyedot massa yang lebih banyak.

NABI MUSA pernah ditegur karena lakukan kesombongan

Nabi Musa Pernah Ditegur Karena Lakukan 'Kesombongan Intelektual'
Rabu, 21 September 2011 01:00 WIB

Oleh Dr A Ilyas Ismail

Sifat sombong (al-kibr) dan menyombongkan diri (al-takabbur) merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan, menurut Ghazali, bermula dari kekaguman seseorang kepada diri sendiri (al-`ujb), lalu memandang rendah orang lain. Sifat sombong merupakan sikap batin yang terejawantahkan dalam perbuatan dan tindakan yang cenderung destruktif dan diskriminatif.

Penyakit yang satu ini, menurut Ghazali, patut diwaspadai, karena tak hanya menyerang manusia secara umum, tetapi justru lebih banyak menyerang orang-orang pandai, para pakar, termasuk para ulama, kecuali sedikit orang dari mereka yang mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah SWT.

Nabi Musa AS konon dianggap telah melakukan "kesombongan intelektual" ketika beliau berkata, "Ana a`lam al-qaum" (akulah orang paling pandai di negeri ini). Sepintas lalu, pernyataan ini dapat dianggap wajar karena dikemukakan oleh seoang Nabi yang ditugaskan Allah SWT untuk membebaskan rakyat Mesir dari perbudakan Raja Firaun. Namun, Allah SWT memandang pernyataan Musa itu berlebihan.

Karena itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah dan diberi pembelajaran melalui dua cara. Pertama, Nabi Musa dipertemukan dengan seorang (Khidir) yang memiliki tingkat pengetahuan dan kearfian yang jauh lebih tinggi dari Musa. Seperti diceritakan secara panjang lebar dalam surah al-Kahfi, Nabi Musa seakan-akan "dipelonco" oleh Khidir karena ia tak memiliki wawasan keilmuan seluas Khidir, baik secara filosofis maupun epistemologis. Akhirnya, Khidir terpaksa meninggalkan Musa seraya berkata, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku." (QS al-Kahfi [18]: 67).

Kedua, Allah mengajarkan kepada Nabi Musa doa yang berisi etos dan moral seorang ilmuwan (intelektual). "Rabbi zidni `ilman"(Ya Allah tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan). Doa ini diajarkan juga kepada Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya kepada kita semua, orang-orang beriman.

Doa ini penting, karena mengajarkan kepada kita beberapa etika keilmuan. Pertama, etos dan moral intelektual adalah belajar, menemukan kebenaran, dan mengembangkan ilmu. Kedua, ilmu pengetahuan bersifat dinamis, tumbuh dan berkembang (growing and developing) setingkat dengan kerja ilmiah para ilmuwan. Ketiga, apa yang telah diketahui pasti lebih sedikit daripada yang belum diketahui. Kenyataan inilah yang membuat para ilmuwan tak boleh sombong, tetapi harus rendah hati (tawadhu).

Socrates, filosof Yunani, pernah menunjukkan sikap rendah hati itu sewaktu ia berkata, "I only know that I don't know." (Aku hanya tahu bahwa aku tidak tahu). Imam Syafii, pendiri Mazhab Syafii, lebih tawadhu lagi. Disebutkan, setiap kali beliau memperoleh tambahan ilmu, beliau selalu menangis, karena makin sadar betapa banyak ilmu yang belum diketahuinya.

Agar tidak seperti kodok dalam tempurung, para ilmuwan harus belajar dan menumbuhkan sikap rendah hati, persis seperti pesan doa yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Musa AS di atas. Logikanya begini, kalau sifat rendah hati datang, maka segala bentuk kesombongan dan arogansi pasti menghilang. Wallahu a`lam.

Tulisan ini telah dimuat di Republika cetak dengan judul Kesombongan Intelektual

Senin, 19 September 2011

JADILAH POLITISI DA'WAH


Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com – Apakah politisi dapat menjadi dai? Atau apakah dai dapat menjadi politisi? Dan apakah mungkin kegiatan dakwah menjadi kegiatan politik? Atau sebaliknya kegiatan politik menjadi kegiatan dakwah? Menjawab beberapa pertanyaan di atas tidaklah mudah, apabila kita melihat persepsi masyarakat tentang dakwah dan politik. Dakwah dan politik adalah dua ‘kata’ yang kontra bagi mereka. Hal itu karena politik dipahami sebagai aktifitas dunia, sedang dakwah dipahami sebagai aktivitas akhirat. Yang pada gilirannya dipahami bahwa dakwah tidak pantas memasuki wilayah politik, dan politik haram memasuki wilayah dakwah. Dakwah adalah pekerjaan para ustadz, dan politik pakerjaan para politisi. Jika seorang ustadz yang menjadi politisi, ia harus menanggalkan segala atribut dan prilaku ke-ustadz-annya, dan harus mengikuti atau beradaptasi dengan perilaku para politisi. Demikian pula apabila seorang politisi menjadi ustadz ia pun harus menanggalkan baju politiknya, dan jika tidak, ia akan tetap dicurigai menggunakan agama sebagai alat politik.
Tapi, pertanyaan di atas akan menjadi mudah untuk dijawab, apabila politik dipahami sesuai dengan definisi Aristoteles bahwa politik adalah: “Segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.” Definisi ini meliputi semua urusan masyarakat, temasuk di dalamnya masalah akhlak yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah, sebagaimana dipahami masyarakat.
Dan atau apabila dipahami definisi politik menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna, yaitu:
“Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat.” Intermal politik adalah “mengurus persolalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikeritik jika mereka melakukan kekeliruan.” Sedang yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.”
Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat makruf dan pencegahan dari kezhaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah.
Dengan pemahaman dua definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik dan dakwah adalah dua kegiatan yang sangat terkait, dan sangat mungkin dakwah menjadi kegiatan politik, atau politik menjadi kegiatan dakwah, atau dapat disebut two in one. Bahwa dakwah adalah politik apabila ia berperan memahamkan masyarakat kepada hak dan kewajiban mereka. Dan bahwa politik adalah dakwah jika ia berperan mengajak masyarakat berbuat baik, memfasilitasi mereka berbuat makruf dan menutup semua pintu bagi masyarakat untuk berbuat zhalim dan dizhalimi.
Secara operasional, bahwa dakwah adalah politik dan politik adalah dakwah dapat dipahami dengan baik oleh setiap muslim apabila pertama, memahami universalitas Islam; kedua, memahami risalah penciptaan manusia; dan ketiga, mengatahui cara merealisasikan risalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga setiap muslim harus menjadi da’i sekaligus menjadi politisi. Karena itulah Hasan Al Banna mengatakan, “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh kedepan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya.”
Lalu bagaimana menjadi politisi dakwah? Berikut ini sub-sub bahasan yang menjelaskan lebih rinci mengenai masalah ini:
1. Kedudukan Politik Dalam Islam
Islam agama sempurna, mencakup seluruh urusan kehidupan manusia yang terdiri dari kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara, serta segala aktifitas yang meliputnya, seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan lain sebagainya. Islam tidak memilah antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam setiap aktifitas mengandung unsur dunia dan akhirat sekaligus.
Shalat misalnya, dalam persepsi banyak orang ia adalah amalan akhirat angsih. Tapi jika ditelaah lebih dalam, dapat ditemukan bahwa shalat adalah amalan akhirat sekaligus amalan dunia. Ia menjadi demikian karena, pertama, shalat dilaksanakan di dunia, pahalanya saja yang diperoleh di akhirat; kedua, shalat itu dzikir, dan setiap yang berdzikir pasti mendapatkan ketenangan, dan ketenangan itu kebutuhan asasi manusia dalam beraktifitas. Rasulullah saw jika sedang gundah, beliau berkata kepada Bilal: “Tenangkanlah kami dengan shalat hai Bilal!” dan yang ketiga, shalat sangat dianjurkan dilaksanakan dengan berjamaah, dan bagi yang melaksanakannya mendapatkan derajat 27 kali lipat dari pada yang shalat sendirian. Shalat berjamaah membuat kita – dengan sendrinya – bersilaturahim, mendidik kita hidup bermasyarakat dan bernegara yang teratur dan rapi. Dalam shalat berjamaah harus ada imam dan makmum yang semua tindakannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, makmum harus taat pada imam, mengikuti semua gerakan dan perintah imam, apabila tidak maka shalat sang makmum tidak sah. Dan apabila sang imam salah atau khilaf, maka wajib bagi makmum untuk menegurnya sampai imam kembali kepada yang benar. Demikian pula seharusnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Contoh yang lain, kegiatan jual beli, dalam persepsi banyak orang, ia adalah kegiatan dunia angsih. Padahal jika ditelaah lebih mendalam, maka ia pun sekaligus menjadi kegiatan akhirat. Hal itu, karena walaupun zhahirnya jual beli adalah amalan dunia, tapi karena di dalamnya ada aturan main yang harus di patuhi oleh masing-masing penjual dan pembeli, dan jika mereka patuh pada atauran itu, maka keduanya mendapatkan pahala yang akan diperolehnya di akhirat, tapi jika salah satu atau keduanya menyalahi atuaran tersebut, maka yang berbuat salah mendapatkan dosa, yang hukumannya akan ia dapatkan pula di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah saw besabda, “pedagang yang jujur mendapatkan naungan arasy pada hari kiamat.”
Dengan demikian, semua amalan, baik mahdhah maupun gairu mahdhah di dalam Islam, memiliki kedudukan yang sama, termasuk di dalamnya politik. Bahkan jika politik berarti kekuasaan, Utsman bin ‘Affan ra berkata: “Al-Qur’an lebih memerlukan kekuasaan dari pada kekuasaan membutuhkan Al-Qur’an.”
Karena politik bagian dari keuniversalan Islam, maka setiap muslim meyakini bahwa Islam memiliki sistim politik yang bersumber dari Allah, dicontohkan oleh Rasulullah dan dikembangkan oleh para sahabat dan salafussaleh, sesuai dengan dinamika perkembangan hidup manusia setiap masa. Berikutnya setiap muslim pun siap menjalankan sistem itu, dan tidak akan menjalankan sistim yang lain, karena kahawatir akan tergelincir pada langkah-langkah syaitan. Itulah bagian dari pengertian firman Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syatan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata.” (Al-Baqarah: 208)
2. Peran Politik Dalam Dakwah
Allah telah menetapkan risalah penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya, kemudian menjadikannya khalifah dalam rangka membangun kemakmuran di muka bumi bagi para penghuninya yang terdiri dari manusia dan alam semesta.
Agar risalah ini menjadi abadi dalam sejarah peradaban manusia, Allah SWT ‘merekayasa’ agar dalam kehidupan terjadi hubungan interaksi ‘positif’ dan ‘negatif’ di antara semua makhluk-Nya secara umum, dan di antara manusia secara khusus. Yang dimaksud dengan interaksi positif ialah, adanya hubungan tolong menolong sesama makhluk. Sedangkan interaksi negatif ialah, adanya hubungan perang dan permusuhan sesama makhluk. Allah SWT berfirman: “…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai yang dicurahkan atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251)
Keabadian risalah tersebut sangat tergantung pada hasil dari setiap interaksi baik yang positif maupun negatif. Jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang saleh, yang pada gilirannya mereka saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan; dan jika berada dalam peperangan, dimenangkan pula oleh orang-orang saleh itu, maka pasti yang akan terjadi adalah keabadian risalah.
Tapi jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang buruk yang bersepakat melaksanakan kejahatan dan permusuhan, dan selanjutnya mereka pula yang memenangkan peperangan, maka pasti yang akan terjadi adalah kehancuran.
Disinilah letak politik berperan dalam dakwah. Dakwah mengajak pada kebaikan, melaksanakan risalah penciptaan manusia, menyeru kepada yang makruf dan mencegah semua bentuk kemungkaran, sementara politik berperan memberikan motivasi, perlindungan, pengamanan, fasilitas, dan pengayoman untuk terealisasinya risalah tersebut.
Sejarah telah membuktikan, bahwa naskah-naskah Al-Qur’an yang sangat ideal pernah menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Pada zaman Nabi saw, seorang Bilal bin Rabah yang hamba sahaya pada masa jahiliyah menjadi orang merdeka pada masa Islam, dan memiliki kedudukan yang sama dengan para bangsawan Quraisy, seperti Abubakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Ini karena Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw mengajarkan persamaan derajat, sekaligus beliau sebagai pemimpin umat – dan tidak salah jika dikatakan pemimpin politik umat – menjamin realisasi persamaan derajat itu sendiri. Sehingga pernah suatu ketika beliau marah kepada seorang shabatnya yang mencela warna kulit Bilal.
Pada zaman yang sama, ketika Nabi saw mengirim pasukannya ke negeri Syam, beliau berpesan agar pasukan itu tidak menebang pohon kecuali untuk kebutuhan masak, melarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang tidak ikut berperang dan orang yang telah menyerah, beliau juga melarang membunuh orang yang sedang beribadah di gereja, dst. Ini semua adalah buah dari ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.
Sepeninggalan beliau, Rasulullah digantikan oleh Abubakar Siddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib secara berurutan. Pada zaman keempat sahabat itu, keadaan yang telah dibangun oleh Rasulullah saw tidak berubah, semua warga dibawa kepemimpinan khilafah menjalankan hak dan kewajiban, mendapatkan persamaan derajat, tidak ada yang dizalimi kecuali mendapatkan haknya, atau berbuat zhalim kecuali telah mendapatkan sangsi. Keadaan ini berlangsung sampai masa keemasan Islam di Damaskus, kemudian di Bagdad dan Andalusia.
Tapi seirng dengan perkembangan berikutnya, umat menjauh dari agamanya, kegiatan agama dijauhkan dari kegiatan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, demikian pula sebaliknya, hingga sampailah zaman itu pada generasi kita.
Kita bersedih dengan keadaan kita, umat Islam sebagai umat terbesar di alam raya ini, tapi terzalimi hak-haknya, umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri tercinta ini, tapi terbantai di Maluku dan di Poso, tidak boleh menjalankan syariat agamanya secara kaffah, dihambat para pemimpinya yang saleh untuk memimpin bangsanya, tidak diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan ekonominya, dst.
Mungkinkah sejarah kita hari ini berulang seperti sejarah generasi pertama umat ini. Sangat mungkin! Tentu apabila kita mau memenuhi syarat-syaratnya. Sebagiannya telah kami sebutkan dalam makalah ini, yaitu dakwah dan politik sebagai instrumen terlaksananya ajaran Islam harus menyatu menjadi karakter setiap muslim, atau dengan kata lain menjadi poltisi dakwah.
3. Karakteristik Politisi Dakwah
Setiap muslim berkewajiban menjadi dai, paling tidak, untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana Rasulullah saw berwasiat: “Sampaikanlah tentang ajaranku walaupun satu ayat.” Dan sekaligus secara perlahan menjadi politisi dakwah, sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya. Adapun sifat dan karakter yang dimiliki para politisi dakwah adalah sebagai berikut:
A. Memiliki Keperibadian politik.
Kepribadian politik adalah sekumpulan orientasi politik yang terbentuk pada diri seseorang dalam menyikapi dunia politik. Ia memiliki tiga aspek.
Pertama, Doktrin-doktrin yang mengandung makna politis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Doktrin-doktrin yang tidak langsung meliputi:
(a) Doktrin khusus yang berkaitan dengan ketuhanan, manusia, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai. Yaitu:

Keyakianan bahwa Allah swt adalah musyarri’ (Pembuat hukum).
Keyakinan bahwa al-wala’ (loyalitas) dan al-bara’ (anti loyalitas) adalah konsekuensi aqidah, loyal hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Dan kepada selainnya tidak akan pernah loyal.
Keyakinan bahwa semua manusia sama dalam hal penciptaan, hak dan kewajibannya.
Keyakinan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, dengan tujuan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat Allah, dan bahwa alam ini ditundukkan untuknya.
Keyakinan bahwa sumber nilai-nilai adalah wahyu.

(b) Doktrin khusus tentang masyarakat, perubahan sosial, dan perempuan. Yaitu:

Keyakinan bahwa karakteristik dan prinsip masyarakat muslim adalah akhlak.
Keyakinan bahwa perubahan sosial adalah atas dasar kemauan dan gerak manusia itu sendiri, berangkat dari pembinaan individu, kemudian keluarga, masyarakat dan negara.
Keyakianan bahwa perempuan memiliki hak-hak politik sama dengan hak-hak politik laki-laki.

Sedang doktrin-doktrin yang mengandung makna politis secara langsung adalah:
(a) Doktrin khusus tentang keadilan dan kedamaian sosial.
(b) Doktrin tentang strategi moneter, kemerdekaan dan kebangkitan ekonomi.
(c) Doktrin khusus tentang hukum dan kekuasaan, bahwa hukum Islam sebagai sumber kekuasaan; umat sebagai lembaga pengawas dan yang mengangkat dan menurunkan pemerintah; syura adalah keniscayaan; keadilan ditegakkan; kebebasan dan persamaan derajat adalah hak dan kebutuhan setiap orang.
(d) Doktrin khusus tentang kepahlawanan dan kewarganegaraan.
(e) Doktrin khusus tentang kemerdekaan kultural; kewajiban membebaskan diri dari penjajahan; dan kewajiban berjihad di jalan Allah.
Kedua, Pengetahuan dan wawasan politik, masalah ini akan dibahas pada point memiliki kesadaran politik.
Ketiga, Orientasi dan perasaan politik. Para politisi dakwah yang telah meyakini doktrin-doktrin di atas, disertai dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang politik, maka pasti ia memiliki orientasi dan perasaan politik. Diantaranya: Loyal kepada pemerintah yang menegakkan syariat Islam; rasa ukhuwah insaniyah dan islamiyah, serta rasa persamaan derajat dengan orang lain; hasrat melakukan perubahan sosial dengan ishlah dan tarbiyah; menghindari kekerasan; menghargai pendapat orang-orang berpengalaman; sikap positif terhadap aktivitas positif; benci kesewenang-wenangan; cinta kemerdekaan; rasa kewarganegaraan dan kepahlawanan; rasa benci dan tunduk kepada bangsa lain; mendukung gerakangerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia; bermusuhan dengan penjajah dan seterusnya.
Kesemua orientasi dan perasaan politik tersebut sangat penting, dan seharusnya politisi dakwah membangunnya pada dirinya dan pada umat Islam serta pada masyarakat umum.
B. Memiliki kesadaran politik.
Kesadaran poltik yang musti dimiliki oleh seorang politisi dakwah adalah:
Pertama, Kesadaran misi, yaitu kesadaran terhadap ajaran Islam itu sendiri, atau kesadaran akan doktrin-doktrin yang telah disebutkan di depan. Ia meliputi pada penyadaran akan dasar-dasar aqidah, akhlak, sosial, ekonomi dan plitik Islam; Juga meliputi pada penyadaran akan pentingnya aplikasi Islam, sebagai asas identitas umat; Selanjuntnya meliputi pula pada penyadaran terhadap karakteristik konseptualnya. Misalnya ia adalah konsep universal untuk seluruh zaman dan tempat.
Kedua, Kesadaran gerakan, yaitu kesadaran terhadap ajaran islam tidak akan terwujud di tengah masyarakat dan negara kecuali ada organisasi pergerakan yang berkomitmen dengan asas Islam, dan bekerja untuk mewujudkannya.
Ketiga, Kesadaran akan problematika politik yang terjadi di masyarakat, yang meliputi probelematika politik nasional, regional dan internasional. Contoh untuk problematika nasional adalah penegakan hukum Islam dengan usulan agar UUD 1945 pasal 29 diamandemen, dan memasukkan ke dalamnya tujuh kata piagam Jakarta.
Keempat, Kesadaran akan hakikat dan sikap politik, yaitu kemapuan politisi dakwah memahami peristiwa poltik dan sadar akan sikap kekuatan-kekuatan politi dalam menghadapi berbagai peristiwa politik itu sendiri. Kesadaran semacam ini tidak mungkin ada tanpa kemampuan mutabaah terhadap berbagai peristiwa dan berbagai kekuatan politik baik melalui media massa maupun kajian-kajian.
Keempat kesadaran poltik tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesadaran misi adalah kesadaran permanen; kesadaran gerakan adalah kesadaran permanen dan fleksibel; kesadaran problematika politik adalah kesadaran fleksibel berdasarkan pandangan yang permanen; dan kesadaran sikap politik adalah kesadaran fleksibel sesuai jenis peristiwa.
C. Berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan politik.
Paertisipasi politik seseorang sangat bergantung orientasi politiknya yang telah terbentuk oleh doktrin-doktrin politik yang telah diyakininya. Maka seorang politisi dakwah yang telah meyakini bahwa menegakkan pemerintahan Islam dalah kewajiban, pasti akan berparisipasi pada setiap kegiatan politik yang kan menuju ke sana. Dalam rangka menggapai keyakinan tersebut, seorang politisi dakwah dapat berpartisipasi; pertama, dalam bentuk individu dengan menjadi anggota organisasi politik; sedang yang kedua, dalam bentuk memberikan solusi atas realita dan problematika masyarakat.
Contoh untuk bentuk yang pertama adalah, lahirnya parati-partai politik yang sebelumnya hanya berbentuk gerakan-gerakan dakwah yang terorganisir rapi dan sistematis, yang kemudian setiap anggota gerakan menjadi anggota partai politik secara otomatis. Dan mensukseskan setiap kegiatan partai tersebut pada setiap jenjang struktur yang menjadi hak dan wewenangnya.
Sedang contoh untuk bentuk yang kedua adalah, keikutserataan seorang politisi dakwah dalam aksi-aksi politik, seperti demonsntrasi menentang kebijakan nasional ataupun internasional yang merugikan agama Islam, atau keikutsertaan seorang politisi dakwah dalam pelayanan sosial, misalnya dengan membantu warga yang sedang mendapatkan musibah atau bencana alam, atau dengan melakukan upaya menghilangkan buta huruf di masyarakat, atau dengan mengadakan aksi mengangkat masyarakat dari bawah garis kemiskinan dls.
4. Langkah-langkah Menjadi Politisi Dakwah
Semoga dengan uraian di depan dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa dakwah dan poltik adalah sesuatu yang kuntra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktifitas. Semoga pula dapat ‘menggoda’ kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melaui aktifitas dakwah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?
Pertama, Membangun kembali pemahaman kegamaan kita, bahwa agama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agama Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan sterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui peroses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan dengan dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru. Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh stiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya. Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau dengan melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai politisi dakwah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.
Kedua, Membangun kembali kebersamaan kita, bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh batasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzahab; bahwa kita itu perlu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam agama Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama. Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat politisi dakwah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.
Ketiga, Mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita; bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang menutupi kekurangan orang lain; bahwa keunggulan kita dapat menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi politisi dakwah melalui keunggulan tersebut.
Keempat, Memahami kembali realitas kehidupan kita; bahwa kita hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh dengan dinamika, sehingga kita politisi dakawah dituntut memiliki kemampuan mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk sarana, metode, dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agama ini.
Akhirnya, Telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi politisi dakwah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al-Qur’an, tergambar dalam Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaun dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut. Allahu a’lam

http://www.dakwatuna.com/2009/02/1965/menjadi-politisi-dakwah